Poin Penting
- Ekonomi Indonesia tumbuh 5,29 persen pada semester I 2026, masih di bawah Vietnam yang mencapai 8,39 persen
- BI menilai ekonomi Indonesia tetap on track, didukung inflasi, defisit fiskal, dan rasio utang yang relatif terjaga
- Destry Damayanti mengajak seluruh pemangku kepentingan bersinergi menghadapi tantangan ekonomi yang semakin kompleks.
Jakarta – Pertumbuhan ekonomi Indonesia masih berada di jalur yang tepat meski lajunya belum mampu menyamai Vietnam.
Pada semester I 2026, ekonomi Indonesia tumbuh 5,29 persen secara tahunan (yoy), sementara ekonomi Vietnam melesat hingga 8,39 persen (yoy).
Bank Indonesia (BI) menilai perbedaan laju pertumbuhan tersebut tidak serta-merta menunjukkan kondisi ekonomi Indonesia lebih buruk dibandingkan negara tetangga.
Gubernur BI Destry Damayanti menyebut sejumlah indikator ekonomi Indonesia justru menunjukkan kondisi yang lebih baik dan terkelola.
“Dari sisi inflasi kita lebih manageable. Vietnam boleh (pertumbuhan) ekonomi tinggi, tapi inflasinya 4,45 persen. Kemudian juga, defisit fiskal prudent,” sebut Destry di acara Sarasehan 100 Ekonom pada Kamis, 3 Agustus 2026.
Baca juga: Wamenkeu Juda Ungkap 3 Reformasi Kunci untuk Dorong Pertumbuhan Ekonomi
Dari sisi fiskal, kata Destry, posisi Indonesia juga relatif lebih terjaga. Pada akhir 2025, defisit fiskal Vietnam tercatat sekitar 3,6 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Sementara itu, defisit fiskal Indonesia berada di kisaran 2,8 persen terhadap PDB.
Pemerintah Indonesia, lanjut Destry, juga berkomitmen menjaga defisit fiskal pada level 2,85 persen terhadap PDB hingga akhir 2026.
“Lalu, kita lihat rasio utang, itu juga relatif manageable. Jadi kita masih bergerak di bawah optimum level kita,” tambah Destry.
Mengacu data Badan Pusat Statistik (BPS), rasio utang Indonesia terhadap PDB pada akhir 2025 berada di kisaran 41,26 persen.
Posisi tersebut masih lebih rendah dibandingkan Malaysia, Filipina, dan Thailand yang masing-masing mencatat rasio utang terhadap PDB sebesar 63,10 persen, 66,00 persen, dan 66,87 persen.
Dengan sejumlah indikator tersebut, Destry optimistis kondisi perekonomian Indonesia masih cukup solid dan tidak berada dalam posisi yang lebih buruk dibandingkan negara tetangga.
Baca juga: Purbaya Gandeng Swasta dan Danantara Dorong Ekonomi 6 Persen di 2027
Namun, ia menekankan perlunya kolaborasi seluruh pemangku kepentingan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
“Permasalahan yang kita hadapi makin kompleks. Oleh karena itu, mari kita bergandengan tangan, kita bergerak bersama-sama dengan kekuatan masing-masing, kita saling melengkapi menuju satu tujuan yang sama,” tukasnya. (*) Mohammad Adrianto Sukarso


