Jakarta–Bank Indonesia (BI) mencatat arus modal asing yang masuk ke berbagai instrumen keuangan dalam negeri sejak awal tahun hingga pekan kedua April 2017 telah mencapai Rp81 triliun, atau lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Baca juga: Prospek Ekonomi Indonesia Masih Menjanjikan
“Sampai minggu kedua April, sudah Rp81 triliun. Ini lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang hanya Rp60 triliun,” ujar Gubernur BI Agus DW Martowardojo, di Jakarta, Kamis 13 April 2017.
Agus mengungkapkan, meningkatnya arus modal yang masuk ke Indonesia tersebut, menunjukan kondisi perekonomian nasional yang relatif terjaga. Para pemilik modal (investor) masih menganggap pasar Indonesia sebagai destinasi yang menarik untuk menempatkan modalnya. (Bersambung ke halaman berikutnya)
Hal ini juga sejalan dengan nilai tukar rupiah yang secara year to date telah berhasil menguat 1 persen. Kondisi tersebut, kata Agus, jauh berbeda bila dibandingkan pada rentang tahun 2013-2014, di mana pada waktu itu, nilai tukar rupiah terdepresiasi sebesar 21 persen.
Baca juga: Ekonomi Indonesia dalam Tren Membaik
“Sekarang, daya tahan kita lebih kuat. Ekonomi kuat, inflasi ditekan rendah. Bahkan Maret kemarin, ketika AS menaikkan suku bunga, Indonesia tetap sehat,” ucapnya.
Kendati demikian, lanjut dia, BI tetap mewaspadai kondisi perekonomian global yang berpotensi memengaruhi beberapa indikator perekonomian nasional. Meskipun rupiah dalam kondisi stabil, gejolak eksternal tetap menjadi sentimen yang diwaspadai dalam ke depannya. (*)
Editor: Paulus Yoga




