Poin Penting
- Rupiah melemah 0,79 persen ke Rp17.305 per dolar AS dan menembus level psikologis Rp17.300, dipicu gejolak global dan penguatan dolar AS
- Pemerintah perlu menjaga suku bunga dan defisit transaksi berjalan tetap rendah, dengan target sekitar 1 persen dari PDB di tengah tekanan energi dan inflasi global
- Kunci stabilisasi rupiah ada pada masuknya capital inflows, baik FPI maupun FDI, meski keduanya menghadapi tantangan besar dan sangat dipengaruhi sentimen investor.
Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali tertekan dan mencetak level terendah intraday. Pada Kamis (23/4) pukul 09.32 WIB, rupiah melemah 0,79 persen ke posisi Rp17.305 per dolar AS, sekaligus menembus level psikologis baru di kisaran Rp17.300.
Tekanan terhadap rupiah terjadi di tengah dinamika global yang masih bergejolak. Chief Indonesia and India Economist HSBC Global Research, Pranjul Bhandari, menilai terdapat sejumlah langkah yang dapat ditempuh pemerintah untuk menjaga stabilitas nilai tukar.
Selain mempertahankan suku bunga acuan, pemerintah juga perlu mencermati kondisi neraca eksternal, khususnya defisit transaksi berjalan. Dalam situasi tekanan harga energi dan inflasi global, menjaga defisit tetap terkendali dinilai krusial.
Baca juga: Rupiah Tembus Rp17.300 per Dolar AS, BI Klaim Cadangan Devisa Aman
Ia memperkirakan defisit neraca dagang berpotensi meningkat, sehingga upaya menjaga keseimbangan eksternal menjadi semakin penting. Dalam konteks ini, peran aliran modal asing menjadi faktor penentu.
“Saya pikir defisit neraca dagang akan meningkat hingga 1 persen dari GDP. Yang penting bagi Indonesia adalah untuk menarik lebih banyak capital inflows untuk menutupi defisit neraca dagang saat ini,” ujar Pranjul dalam acara online media briefing HSBC Indonesia Economy and Investment Outlook Q2 2026, Kamis, 23 April 2026.
Menurutnya, tantangan menarik capital inflows saat ini tidak ringan. Ia menjelaskan, terdapat dua jenis aliran modal, yakni foreign portfolio investment (FPI) yang bersifat jangka pendek dan foreign direct investment (FDI) untuk jangka panjang.
“Dan tantangannya meningkat untuk keduanya. Ini akan menjadi tahun yang sulit, karena pada tahun-tahun ini, FDI tidak terlalu kuat di seluruh dunia,” ucapnya.
Khusus untuk FPI, stabilitas pasar keuangan domestik dan kepastian status Indonesia di indeks global menjadi perhatian investor.
Baca juga: Rupiah Sentuh Rekor Terendah dalam Sejarah, Tembus Rp17.300 per Dolar AS
Dalam hal ini, keputusan lembaga Morgan Stanley Capital International (MSCI) dinilai berpengaruh terhadap minat investor asing di pasar modal.
“Jadi, ini adalah capital inflows yang akan menentukan apa yang bakal terjadi pada nilai tukar rupiah,” sebut Pranjul.
Di sisi lain, pelemahan rupiah juga dipengaruhi oleh penguatan dolar AS secara global. Ia menambahkan, apabila tekanan eksternal seperti krisis energi akibat konflik di Timur Tengah mereda, maka hal tersebut berpotensi mendorong pelemahan dolar AS dan membuka ruang penguatan rupiah. (*) Steven Widjaja








