Poin Penting
- Bank Mandiri memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh 5,47 persen yoy pada Q1 2026, meningkat dari 5,39 persen di Q4 2025
- Konsumsi rumah tangga stabil di 5,2 persen yoy, ditopang kenaikan penjualan ritel dan indeks belanja. Belanja pemerintah pulih ke 5,5 persen yoy seiring percepatan realisasi APBN
- PMTB naik ke 6,5 persen yoy dengan dukungan aktivitas manufaktur dan infrastruktur, sementara ekspor melambat ke 2,8 persen yoy dan impor melonjak 7,63 persen yoy.
Jakarta – Tim Ekonom Bank Mandiri atau Office of Chief Economist (OCE) Group Bank Mandiri memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 sebesar 5,47 persen secara tahunan (year on year/yoy). Angka ini meningkat dibandingkan dengan kuartal IV 2025 yang sebesar 5,39 persen yoy.
Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro mengatakan, pertumbuhan tersebut didukung oleh penguatan permintaan domestik, khususnya dari belanja pemerintah, investasi, serta konsumsi musiman terkait Ramadan.
“Kami memperkirakan pertumbuhan PDB Indonesia akan meningkat menjadi 5,47 persen yoy pada kuartal I 2026, dari 5,39 persen yoy pada kuartal IV 2025,” ujar Andry, Selasa, 5 Mei 2026.
Baca juga: Sawit Jadi Motor Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, Ini Buktinya
Andry menyatakan, perkiraan yang lebih tinggi itu juga didorong oleh efek basis rendah (low base effect), menyusul pertumbuhan yang lebih lemah sebesar 4,87 persen (yoy) pada kuartal I 2025 ketika pemerintah melakukan realokasi belanja.
Lebih lanjut, konsumsi rumah tangga diperkirakan tetap kuat di level 5,2 persen yoy pada kuartal I 2026, lebih tinggi dibandingkan 5,1 persen yoy pada kuartal IV 2025.
“Hal ini didukung oleh indikator konsumsi yang lebih kuat, dengan pertumbuhan penjualan ritel rata-rata mencapai sekitar 5,7 persen yoy kuartal I 2026dari 4,7 persen pada kuartal IV 2025,” imbuhnya.
Sementara itu, Mandiri Spending Index meningkat rata-rata 6,4 persen yoy dari 5,3 persen yoy pada triwulan IV 2025, terutama didorong oleh kenaikan belanja pada sektor elektronik dan barang konsumsi.
Andry menjelaskan, belanja pemerintah diperkirakan pulih menjadi 5,5 persen yoy pada kuartal I 2026, dari 4,6 persen yoy pada kuartal IV 2025. Hal ini didukung oleh percepatan fiskal, dengan pertumbuhan belanja APBN mencapai 31,4 persen yoy hingga Maret 2026, yang didorong oleh penyaluran belanja pegawai, bantuan sosial, dan program prioritas.
Selain itu, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) diperkirakan menguat menjadi 6,5 persen yoy pada kuartal I 2026, naik dari 6,1 persen yoy pada kuartal IV 2025.
Baca juga: BPS Catat Neraca Dagang RI Surplus selama 71 Bulan Berturut-Turut
Adapun PMI Manufaktur rata-rata mencapai 52,2 pada kuartal I 2026 dibandingkan 51,9 pada kuartal IV 2025. Sementara impor barang modal tumbuh sekitar 24,2 persen yoy dari 22,5 persen pada kuartal IV 2025 dan penjualan semen meningkat 5,0 persen yoy dari 0,8 persen pada kuartal IV 2025.
“Ini mencerminkan aktivitas infrastruktur yang masih berlanjut meskipun terdapat sedikit moderasi menjelang akhir kuartal,” tambah Andry.
Di sisi lain, ekspor diperkirakan melambat menjadi 2,80 persen yoy (dari 3,25 persen pada kuartal IV 2025, sementara impor meningkat lebih cepat menjadi 7,63 persen yoy dari 3,96 persen pada kuartal IV 2025, mencerminkan penguatan permintaan domestik dan meningkatnya impor terkait investasi. (*)
Editor: Galih Pratama


