Poin Penting
- Bank Mandiri menilai penguatan rupiah dan rebound IHSG didorong sinergi kebijakan fiskal dan moneter yang solid
- Koordinasi pemerintah dan Bank Indonesia dinilai berhasil menjaga stabilitas ekonomi, tercermin dari penguatan rupiah, arus masuk modal asing ke pasar obligasi, serta pulihnya IHSG.
- Meski risiko global masih membayangi, Bank Mandiri optimistis fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat dan berpotensi menopang pertumbuhan di atas 5 persen.
Jakarta – Bank Mandiri menilai penguatan nilai tukar rupiah dan rebound Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam beberapa pekan terakhir tidak terlepas dari sinergi kebijakan fiskal dan moneter yang semakin solid.
Koordinasi erat antara pemerintah dan Bank Indonesia (BI) dinilai berhasil memperbaiki sentimen investor di tengah ketidakpastian global.
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro, mengatakan kehadiran aktif pemerintah bersama BI dalam menjaga stabilitas pasar menjadi faktor utama yang mendorong penguatan rupiah dan pemulihan IHSG.
“Penguatan rupiah dan rebound IHSG dipengaruhi oleh koordinasi fiskal dan moneter yang solid, serta langkah-langkah kebijakan yang nyata di lapangan,” ujar Andry dikutip 26 Juni 2026.
Menurutnya, dari sisi domestik, perbaikan kurva imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN), khususnya tenor panjang, berhasil menarik kembali minat investor asing ke pasar obligasi. Dalam dua pekan terakhir, pasar obligasi Indonesia mencatat arus dana masuk (inflow) setelah sebelumnya mengalami arus keluar (outflow) secara year-to-date.
Kondisi tersebut menjadi sinyal meningkatnya kepercayaan investor terhadap aset keuangan domestik.
Selain itu, pemerintah dinilai berhasil meningkatkan efektivitas belanja negara melalui kebijakan refocusing dan realokasi anggaran. Dana pemerintah diarahkan ke sektor-sektor produktif seperti infrastruktur transportasi, logistik, telekomunikasi, digitalisasi, hingga dukungan bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Langkah tersebut diyakini mampu memperkuat fondasi pertumbuhan ekonomi jangka panjang sekaligus menciptakan lapangan kerja baru.
Di sisi lain, Bank Indonesia juga terus menjaga stabilitas pasar melalui intervensi yang terukur di pasar valuta asing serta penguatan pasokan devisa hasil ekspor. Optimalisasi mekanisme Local Currency Transaction (LCT) turut meningkatkan penggunaan rupiah dalam perdagangan internasional sehingga mengurangi ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Baca juga: MSCI Ingatkan RI Bisa Turun ke Frontier Market, Begini Tanggapan Airlangga
Sentimen Global Mulai Membaik
Andry menambahkan, membaiknya kondisi eksternal turut memberikan sentimen positif bagi rupiah. Meredanya tensi geopolitik dan penurunan harga minyak dunia ke bawah USD80 per barel menjadi faktor pendukung penguatan mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.
Meski demikian, ia mengingatkan pasar tetap perlu mewaspadai potensi volatilitas global, terutama jika Bank Sentral AS (The Fed) kembali memberikan sinyal pengetatan suku bunga yang dapat mendorong penguatan dolar AS.
“Kondisi tersebut berpotensi memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah,” ujarnya.
Terlepas dari risiko eksternal tersebut, Bank Mandiri menilai fundamental ekonomi Indonesia masih berada pada level yang kuat. Pertumbuhan ekonomi diproyeksikan tetap berada di kisaran 5 persen, sementara inflasi diperkirakan terjaga dalam target Bank Indonesia.
Cadangan devisa Indonesia yang berada di kisaran USD144 miliar hingga USD145 miliar juga dinilai cukup kuat untuk menopang stabilitas nilai tukar karena mampu membiayai lebih dari lima bulan kebutuhan impor.
Bank Mandiri turut menyoroti sejumlah sektor yang berpotensi menjadi motor pertumbuhan ekonomi, di antaranya transportasi, logistik, makanan dan minuman, perdagangan, serta telekomunikasi. Sementara sektor pertanian dan manufaktur dinilai memiliki peluang besar untuk didorong melalui insentif fiskal dan pembiayaan yang tepat sasaran.
Baca juga: Terungkap! Ini Alasan LPS Kerek Bunga Penjaminan Bank Umum jadi 3,75% dan BPR 6,25%
“Kebijakan terintegrasi antara pemerintah dan otoritas moneter, ditopang pengelolaan fiskal yang hati-hati dan komunikasi kebijakan yang jelas, memperkuat kepercayaan investor. Dengan demikian, Indonesia memiliki fondasi yang kuat untuk mempertahankan momentum pertumbuhan dan menarik investasi jangka panjang,” kata Andry.
Ia menambahkan, keberlanjutan reformasi struktural dan percepatan proyek-proyek strategis nasional akan menjadi kunci untuk menjaga momentum pertumbuhan. Jika sektor-sektor prioritas terus didorong melalui insentif yang tepat, pertumbuhan ekonomi Indonesia berpeluang menembus 5,5 persen secara berkelanjutan.
“Risiko eksternal tetap ada, namun dengan koordinasi kebijakan yang kuat dan komunikasi yang efektif, peluang bagi Indonesia untuk tumbuh secara inklusif dan berkelanjutan tetap terbuka lebar,” tutup Andry. (*)


