Poin Penting
- DPR RI dan World Bank Group bahas arah ekonomi dan penguatan kerja sama di Spring Meetings 2026
- Dukungan WBG dinilai menopang stabilitas ekonomi dan reformasi Indonesia
- Tantangan global meningkat, pemerintah tetap jaga defisit di bawah 3 persen PDB.
Jakarta — Delegasi Republik Indonesia yang dipimpin Wakil Ketua DPR RI Sari Yuliati menggelar pertemuan bilateral dengan jajaran pimpinan World Bank Group di Washington DC, Amerika Serikat. Pertemuan ini berlangsung dalam rangkaian Spring Meetings 2026.
Pertemuan tersebut membahas arah dan prioritas ekonomi Indonesia sekaligus memperkuat kerja sama dengan lembaga di bawah World Bank Group, termasuk International Finance Corporation dan Multilateral Investment Guarantee Agency.
Dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Jumat, 17 April 2026, Sari mengatakan forum Spring Meetings menjadi ajang utama dialog kebijakan ekonomi global.
“Kami sangat menghargai kemitraan yang kuat dan saling menguntungkan dengan World Bank Group,” ujarnya, dikutip Sabtu, 18 April 2026.
Baca juga: Bank Dunia Pangkas Pertumbuhan Ekonomi RI 2026 jadi 4,7 Persen
Pertemuan ini turut dihadiri Wakil Presiden World Bank untuk kawasan Asia Timur dan Pasifik Felipe, Wakil Presiden IFC Sarvesh untuk Asia Pasifik, serta Wakil Presiden MIGA Junaid. Dari pihak Indonesia, hadir pimpinan Komisi XI DPR RI, Badan Anggaran DPR RI, serta Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa bersama jajaran Kementerian Keuangan dan Bappenas.
Delegasi Indonesia menilai dukungan terpadu dari World Bank Group—mulai dari pembiayaan negara, investasi sektor swasta, hingga mitigasi risiko—telah membantu Indonesia menghadapi ketidakpastian global. Dukungan tersebut juga dinilai berkontribusi terhadap stabilitas makroekonomi dan reformasi struktural.
“World Bank Group merupakan mitra pengetahuan yang andal dalam memberikan panduan kebijakan dan keahlian internasional,” kata Sari.
Baca juga: Purbaya: IMF, Bank Dunia hingga Investor Global Nilai Positif Arah Fiskal RI
Namun demikian, DPR menyoroti meningkatnya tantangan global, seperti perlambatan ekonomi di negara-negara besar, ketegangan geopolitik, serta fragmentasi geoekonomi yang berdampak pada perdagangan dan investasi. Isu ketahanan energi, pangan, perubahan iklim, dan ketidakpastian perdagangan internasional juga menjadi perhatian.
Di tengah tekanan tersebut, Indonesia disebut tetap menjaga disiplin fiskal dengan mempertahankan defisit anggaran di bawah 3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam pertemuan itu juga memaparkan kerja sama Indonesia dengan World Bank Group, antara lain di bidang perubahan iklim, penciptaan lapangan kerja, reformasi kebijakan, dan proyek pembangunan. (*)
Editor: Galih Pratama







