DPK dan Aset OCBC Syariah Naik Tajam pada 2025, Ini Rinciannya

DPK dan Aset OCBC Syariah Naik Tajam pada 2025, Ini Rinciannya

Poin Penting

  • DPK OCBC Syariah naik 27% menjadi Rp10,9 triliun, sementara aset meningkat 20% menjadi Rp13,2 triliun pada 2025.
  • Penyaluran pembiayaan mencapai Rp5,7 triliun dengan NPF gross 3,41%, turun dibanding tahun sebelumnya.
  • Laba bersih menjadi Rp68,3 miliar, namun perseroan optimistis ekspansi ke segmen affluent dan komersial

Jakarta – Unit Usaha Syariah (UUS) milik PT Bank OCBC NISP Tbk (IDX: NISP) mencatatkan kinerja positif sepanjang 2025. Pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) dan aset menjadi motor utama kinerja OCBC Syariah.

Kepala UUS OCBC, Mahendra Koesumawardhana, menyampaikan hingga 31 Desember 2025, DPK UUS OCBC tumbuh 27 persen secara tahunan (yoy) menjadi Rp10,9 triliun. Total aset juga meningkat 20 persen (yoy) menjadi Rp13,2 triliun

“Sepanjang 2025, kami mencatatkan kinerja yang solid. Per 31 Desember 2025, DPK UUS OCBC tumbuh 27 persen (yoy) menjadi Rp10,9 triliun, sementara total aset meningkat 20 persen (yoy) menjadi Rp13,2 triliun,” terang Mahendra, Jumat, 13 Februari 2026.

Baca juga: OCBC Dukung Penguatan Iklim Investasi Lewat Indonesia Economic Summit 2026

Produk tabungan emas juga menunjukkan pertumbuhan yang positif. Tanpa menyebut angka spesifik, per Desember 2025, nasabah tabungan emas UUS OCBC mengalami kenaikkan 223 persen (yoy). Gramasi emas pun mencapai 771,2 kg, atau naik 506 persen (yoy).

Pembiayaan Rp5,7 Triliun, NPF Turun

Sepanjang 2025, UUS OCBC juga mencatat pembiayaan yang disalurkan mencapai Rp5,7 triliun, dengan non-performing financing (NPF) Gross sebesar 3,41 persen. Namun, secara tahunan, angka tersebut menurun 6 persen dibandingkan 2024.

Mayoritas dana yang disalurkan digunakan untuk pembiayaan rumah atau KPR, yang mencakup 52 persen dari total pembiayaan. Sementara, 48 persen dari pembiayaan lainnya dialokasikan untuk pembiayaan produktif.

Baca juga: Penyaluran KPR 2026 Diprediksi Tumbuh hingga 11 Persen, Ini Pendorongnya

Mahendra mengakui 2025 menjadi tahun menantang, khususnya pada pembiayaan KPR, terjadi penurunan daya beli dan dinamika ekonomi global maupun domestik.

Mortgage itu memang sebagian itu didominasi oleh salaried worker (pekerja) ya. Kita tidak menampik bahwa banyak salaried worker itu yang kena impact,” sebut Mahendra.

Laba Turun, Bidik Segmen Affluent

Alhasil, laba bersih OCBC Syariah pada 2025 menurun 19 persen (yoy) dari Rp82,2 miliar menjadi Rp68,3 miliar.

Meski 2026 diperkirakan tetap menantang, UUS OCBC optimistis memperluas pasar, khususnya segmen affluent dan komersial.

“Kami tetap positif di mana sebetulnya kalau segmen market syariah itu sangat spesifik dan kami (sudah) punya segmen market. Oleh karenanya, kami akan masuk ke segmen yang mungkin jauh lebih established, contohnya komersial,” jelasnya.

Baca juga: Laba OCBC Tumbuh 4 Persen Jadi Rp5,1 Triliun di 2025

Adapun salah satu strategi yang disiapkan UUS OCBC adalah menghadirkan layanan “Premiere Banking” untuk membantu nasabah prioritas mengelola aset sesuai prinsip syariah.

Selain itu, UUS OCBC juga membidik peluang pembiayaan konsumtif untuk segmen-segmen syariah lainnya. (*) Mohammad Adrianto Sukarso

Related Posts

News Update

Netizen +62