Poin Penting
- Amartha mewaspadai penguatan dolar AS yang berpotensi menekan daya beli masyarakat desa akibat kenaikan harga bahan baku impor
- Chief Compliance & Sustainability Officer Aria Widyanto menilai kenaikan harga pangan seperti tempe dapat mengurangi pelanggan usaha mikro dan menekan omzet pelaku usaha desa
- Meski dampaknya belum signifikan, Amartha tetap mencermati efek berantai penguatan dolar terhadap ekonomi pedesaan dan pendapatan usaha ultra mikro.
Jakarta – PT Amartha Mikro Fintek (Amartha) mewaspadai dampak penguatan dolar Amerika Serikat (AS) terhadap daya beli masyarakat desa, yang menjadi basis utama nasabah perusahaan.
Meski efeknya belum terlihat signifikan dalam jangka pendek, kenaikan kurs dinilai berpotensi mendorong inflasi harga bahan baku impor dan pada akhirnya menekan pendapatan pelaku usaha ultra mikro di pedesaan.
Chief Compliance & Sustainability Officer Aria Widyanto mengatakan, masyarakat desa tetap akan merasakan dampak kenaikan dolar meskipun mereka tidak bertransaksi langsung menggunakan mata uang asing. Hal itu terjadi karena banyak komoditas konsumsi sehari-hari masih bergantung pada bahan baku impor.
“Dampak dolar naik yang kami lihat adalah terhadap kemampuan daya beli masyarakat. Misalnya warung makan, menu seperti tempe menggunakan kedelai yang masih impor. Ketika harga bahan baku naik, pelaku usaha tentu akan menyesuaikan harga jual,” ujarnya saat ditemui usai acara Asia Grassroots Forum 2026 Amartha di Jakarta, Rabu (20/5).
Baca juga: BI Pangkas Batas Pembelian Dolar AS jadi 25.000 Dolar Mulai Juni 2026
Ia mencontohkan, harga makanan yang sebelumnya dijual Rp2.000 dapat naik menjadi Rp2.500. Kenaikan harga tersebut berpotensi menurunkan jumlah pelanggan, sehingga omzet pelaku usaha mikro ikut tertekan.
“Kalau tempe dari Rp2.000 menjadi Rp2.500, ada potensi nasabahnya berkurang. Ini yang kami waspadai,” katanya.
Menurut Aria, dampak penguatan dolar terhadap ekonomi pedesaan memang belum terasa signifikan karena lonjakan kurs baru terjadi dalam beberapa minggu terakhir. Namun, Amartha tetap mencermati potensi efek berantai yang dapat menjalar hingga ke wilayah desa.
Baca juga: Pembiayaan Amartha Tembus Rp3 Triliun pada Kuartal I 2026
“Dampaknya belum terlihat signifikan. Tetapi kami tetap memwaspadai, karena efek turunannya bisa terasa sampai ke desa sebagai akibat dari harga komoditas impor yang naik,” jelasnya.
Ia menegaskan, kenaikan harga barang kebutuhan sehari-hari akan mengurangi daya beli masyarakat desa dan dapat memengaruhi kemampuan usaha ultra mikro untuk mempertahankan pendapatan.
“Walaupun masyarakat desa tidak menggunakan dolar secara langsung, cepat atau lambat dampaknya pasti akan terasa,” tegas Aria. (*) Alfi Salima Puteri


