Poin Penting
- Saham BBCA turun sekitar 18,89 persen sejak awal 2026 ke level Rp6.500, dipengaruhi fluktuasi pasar kuartal I, namun kini diperdagangkan dengan valuasi lebih murah di kisaran PER 15 kali
- Di tengah pelemahan harga, jajaran direksi BBCA justru agresif memborong saham dengan nilai miliaran rupiah, mencerminkan keyakinan kuat terhadap fundamental perseroan
- Analis menilai BBCA berpotensi rebound dengan target harga hingga Rp10.000 per saham, didukung peluang kenaikan valuasi ke kisaran PER historis 18–20 kali.
Jakarta – Harga saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sejak awal tahun 2026 hingga perdagangan hari ini (20/4) mengalami tren penurunan sekitar 18,89 persen ke level Rp6.500 dari posisi Rp8.175 per saham.
Pengamat Pasar Modal, Rendy Yefta, mengatakan keadaan tersebut tentunya dipengaruhi oleh fluktuasi pasar yang terjadi pada kuartal I 2026.
Di tengah keadaan tersebut, Rendy menyoroti valuasi saham BBCA yang menjadi lebih murah dibandingkan saham bank digital. Sebab, saham BBCA saat ini hanya diperdagangkan di kisaran Price to Earnings Ratio (PER) sekitar 15 kali.
“Artinya, investor hanya membayar 15 tahun laba untuk memiliki bank terbesar, paling efisien, dan paling konsisten mencetak keuntungan di Indonesia,” ucap Rendy dalam keterangannya dikutip, 20 April 2026.
Lebih lanjut ia menambahkan, jika dibandingkan dengan saham PT Bank Jago Tbk (ARTO) saat ini diperdagangkan di sekitar PER 64 kali. Dengan kata lain, investor harus membayar valuasi lebih dari 4 kali lebih mahal dibanding BBCA untuk setiap Rp1 laba yang dihasilkan.
Baca juga: Kinerja 2025 Ciamik, Saham BBCA Diproyeksi Kembali Menguat
Meski demikian, jajaran direksi BBCA justru melakukan tindakan memborong saham di tengah valuasi saham yang sudah murah sebagai strategi untuk menunjukkan bahwa kondisi keuangan perseroan masih sangat kuat.
Beberapa jajaran direksi yang memborong saham BBCA, di antaranya adalah
- Direktur Utama BBCA, Hendra Lembong, menambah amunisi secara masif dengan dana hingga Rp7,93 miliar
- Wakil Presiden Direktur BBCA, John Kosasih, mengeksekusi pembelian senilai Rp4,37 miliar pada Maret 2026
- Executive Vice President BBCA, Vera Eve Lim, mengeluarkan dana segar Rp3,84 miliar untuk mempertebal kepemilikan
- Direktur BBCA, Santoso, mengunci posisi dengan total nilai transaksi Rp3,46 miliar pada Maret 2026
- Managing Director BBCA, Frenkie Candra Kusuma, mengakumulasi saham senilai Rp2,87 miliar sejak Maret 2025
- Direktur BBCA, Lianawaty Suwono, memborong 300 ribu saham senilai Rp2,1 miliar di akhir Januari 2026 justru saat pasar sedang bergejolak.
Target Saham BBCA
Rendy menilai saham BBCA memiliki potensi capital gain yang menarik dalam jangka menengah. Ia melihat pergerakan saham bank berkapitalisasi besar tersebut tengah membentuk fase konsolidasi yang berpeluang diikuti rebound signifikan. Dalam analoginya, membeli BBCA pada level harga saat ini serupa dengan mengakuisisi properti premium di lokasi strategis ketika tengah ditawarkan dengan harga diskon.
“Jika BBCA saja kembali dihargai sedikit lebih tinggi, misalnya PER 18–20 kali seperti rata-rata historisnya, maka harga sahamnya berpotensi naik signifikan dari level sekarang,” imbuhnya.
Baca juga: BCA (BBCA) Beri Sinyal Dividen Interim Dibagikan 3 Kali untuk Tahun Buku 2026
Lebih lanjut, Rendy memproyeksikan target harga saham BBCA berpotensi menembus level Rp10.000 per saham dalam beberapa bulan ke depan. Ia mengingatkan bahwa saham ini sebelumnya hampir menyentuh level tertinggi sepanjang masa (all-time high) di kisaran Rp11.000 per lembar, sehingga ruang kenaikan dinilai masih terbuka lebar.
Menurutnya, risiko penurunan relatif terbatas mengingat fundamental perseroan yang solid, sementara peluang kenaikan tetap besar seiring valuasi yang dinilai masih berada di bawah nilai wajarnya.
“Kesempatan membeli saham raja perbankan dengan harga “diskon” tidak datang setiap hari. Manajemen sudah memberi sinyal dengan uang miliaran rupiah. Valuasi PER juga menunjukkan bahwa BBCA jauh lebih murah dibanding bank digital seperti ARTO,” tutupnnya. (*)
Editor: Galih Pratama








