Poin Penting
- DBS menilai bank sentral global makin hawkish, sementara ketegangan Timur Tengah meningkatkan risiko inflasi dan peluang kenaikan suku bunga
- DBS merekomendasikan posisi netral pada saham dan obligasi, dengan strategi barbell yang mengombinasikan saham AI dan sektor nonteknologi
- Di pasar obligasi, DBS menyarankan selektif memilih kredit berkualitas dan mempertahankan durasi investasi 5–7 tahun di tengah potensi kenaikan imbal hasil.
Jakarta – Chief Investment Officer DBS, HOU Wey Fook, menilai sejumlah bank sentral utama mulai mengubah arah kebijakan moneternya dengan mengambil sikap yang lebih hawkish atau netral dalam menentukan suku bunga.
Menurutnya, perubahan tersebut tercermin dari kebijakan The Federal Reserve (The Fed), European Central Bank (ECB), dan Bank of England (BoE), yang semakin membuka peluang kenaikan suku bunga pada akhir tahun ini melalui strategi penetapan harga berbasis pasar.
Di sisi lain, HOU menilai ketegangan geopolitik, khususnya di Timur Tengah, membawa konsekuensi makroekonomi yang signifikan.
Ia melihat kesenjangan antara ekspektasi politik dan implementasi kebijakan semakin melebar, terutama dalam aspek geopolitik, disiplin fiskal, dan inflasi.
Alih-alih meredakan tensi global serta memulihkan disiplin fiskal, bauran kebijakan Amerika Serikat saat ini dinilai justru meningkatkan risiko geopolitik, mendorong kenaikan belanja pertahanan, dan memperlebar defisit fiskal secara struktural.
“Perkembangan ini mengarah pada rezim makro yang lebih rentan terhadap inflasi dibandingkan dengan yang saat ini diperhitungkan oleh pasar ketegangan geopolitik, terutama di Timur Tengah, memiliki konsekuensi makro yang signifikan,” ucapnya dalam keterangan resmi di Jakarta, 1 Juli 2026.
Dalam pandangan DBS Group Research, posisi investasi yang disarankan saat ini adalah tetap netral terhadap saham maupun obligasi.
Perekonomian Amerika Serikat dinilai masih resilien, ditopang oleh konsumsi domestik yang kuat, ekspor energi, siklus investasi, belanja modal terkait kecerdasan buatan (AI), serta implementasi RUU One Big Beautiful Trump yang turut menopang sentimen pasar.
Dari sisi pasar saham, reli yang terjadi sejak akhir Maret berlangsung cukup kuat dan bahkan melampaui ekspektasi banyak investor. Ketika sebagian pelaku pasar masih berfokus pada krisis Iran, pasar saham justru telah mengantisipasi penyelesaian konflik tersebut serta normalisasi harga minyak.
Meski demikian, reli pasar dinilai masih terkonsentrasi pada saham-saham berbasis AI. Kondisi tersebut menciptakan dispersi yang cukup besar, di mana saham-saham momentum mencatatkan kinerja lebih baik dibandingkan saham dengan volatilitas rendah.
“Kami memperkirakan antusiasme investor terhadap AI akan tetap didukung oleh pertumbuhan laba, namun kami menyarankan pendekatan barbell, dengan memadukan eksposur AI dengan sektor-sektor kurang terpapar teknologi tersebut,” imbuhnya.
Selain itu, DBS juga menyarankan investor untuk memilih perusahaan dengan intensitas energi yang rendah. Pasalnya, harga minyak yang bertahan tinggi dalam jangka waktu lebih lama berpotensi menekan margin keuntungan pada sektor-sektor yang sensitif terhadap biaya energi.
Sementara untuk instrumen obligasi, DBS memperkirakan imbal hasil masih akan bergerak naik sehingga selektivitas menjadi faktor utama, terutama pada kredit di pasar berkembang.
Krisis di Timur Tengah, ditambah ketahanan ekonomi global yang didukung belanja modal terkait AI, diperkirakan akan mempertahankan tekanan inflasi dan memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga lanjutan di negara-negara maju.
DBS juga menilai pergeseran ekonomi global dari era tabungan berlimpah menuju rezim yang didorong belanja modal berpotensi mengalihkan aliran dana ke obligasi korporasi. Kondisi tersebut dapat mengurangi minat terhadap obligasi pemerintah dan mendorong kenaikan imbal hasil.
Karena itu, untuk kredit korporasi, DBS tetap merekomendasikan durasi investasi pada obligasi tenor lima hingga tujuh tahun.
Adapun di pasar berkembang, DBS menekankan pentingnya selektivitas dengan memprioritaskan negara yang memiliki kemandirian energi, kredibilitas kebijakan, serta kompensasi risiko yang memadai.
Pendekatan dari bawah ke atas (bottom-up) juga dinilai penting dengan berfokus pada penerbit obligasi berkualitas yang memiliki fundamental kuat dan kemampuan membayar utang.
“Kami juga melihat peluang pada instrumen AT1, yang akan mendapat manfaat dari kenaikan suku bunga melalui ekspansi margin,” ujarnya. (*)
Editor: Galih Pratama


