DBS Indonesia Rekomendasikan Aset Riil hingga Saham Asia untuk Hadapi Tekanan Global 2026
Page 2

DBS Indonesia Rekomendasikan Aset Riil hingga Saham Asia untuk Hadapi Tekanan Global 2026


3. Menangkap Peluang Transformasi AI

Perkembangan pesat kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) membuka siklus investasi baru yang berpotensi membentuk ulang lanskap industri dan meningkatkan produktivitas global.

Bank DBS Indonesia menilai investasi di sektor ini akan terus berlanjut. Namun, investor diimbau tetap mencermati risiko valuasi tinggi dan potensi pembiayaan yang bersifat sirkular.

Fokus investasi sebaiknya diarahkan pada perusahaan yang mampu mengadaptasi AI secara nyata untuk meningkatkan efisiensi operasional dan profitabilitas secara berkelanjutan. 

“Perusahaan berkapitalisasi besar dinilai lebih siap memanfaatkan skala ekonomi dan menangkap keuntungan produktivitas secara lebih stabil,” imbuhnya.

4. Kredit Investment-Grade untuk Stabilitas

Di pasar obligasi kata dia, perseroan merekomendasikan kredit berperingkat investment-grade dibandingkan obligasi high-yield.

Obligasi investment-grade dinilai menawarkan profil risiko-hasil yang lebih seimbang. Sementara itu, rasio risiko-hasil untuk obligasi high-yield dinilai kurang menarik, terutama di tengah valuasi yang relatif tinggi.

Baca juga: KISI Sekuritas Siap Bawa 7-8 Perusahaan IPO 2026, Ada yang Beraset Rp3 Triliun

Bank DBS Indonesia menyebut spread obligasi yang saat ini berada di level ketat secara historis cenderung stabil. Pelebaran signifikan diperkirakan tidak terjadi pada 2026, mengingat kondisi neraca perusahaan yang relatif sehat serta risiko resesi yang rendah.

Fokus pada kredit berkualitas A/BBB dengan tenor 5-7 tahun dinilai dapat membantu investor memperoleh pendapatan yang lebih stabil sekaligus menjaga ketahanan portofolio.

5. Diversifikasi ke Saham Asia di Luar Jepang

Selain instrumen pendapatan tetap dan aset lindung nilai, perseroan juga merekomendasikan diversifikasi ke pasar saham Asia di luar Jepang.

Pasar saham Asia ex-Japan saat ini diperdagangkan dengan diskon sekitar 32,4 persen dibandingkan pasar negara maju. Kawasan ini menawarkan prospek pertumbuhan laba yang lebih kuat serta momentum ekonomi yang relatif solid.

Faktor pendukung lainnya mencakup potensi pelemahan dolar AS dan meningkatnya arus modal global, yang dapat menurunkan biaya utang berbasis dolar serta mendorong harga komoditas.

“Dengan mempertimbangkan faktor tersebut, diversifikasi ke saham Asia dinilai sebagai strategi efektif untuk memperluas eksposur geografis, memanfaatkan peluang pertumbuhan jangka menengah hingga panjang, serta menjaga keseimbangan risiko terhadap fluktuasi pasar global,” tandasnya.

Secara keseluruhan, Bank DBS Indonesia menekankan pentingnya pendekatan investasi yang terdiversifikasi dan adaptif terhadap perubahan siklus ekonomi global guna menjaga stabilitas sekaligus mengoptimalkan imbal hasil portofolio. (*)

Editor: Yulian Saputra

Related Posts

News Update

Netizen +62