Poin Penting
- Diversifikasi jadi kunci hadapi tekanan global 2026, dengan mengombinasikan aset riil, emas, kredit investment-grade, hingga saham Asia untuk menjaga ketahanan portofolio.
- Emas dan aset riil direkomendasikan sebagai jangkar dan pelindung nilai, terutama di tengah risiko inflasi, fiskal global, dan ketidakpastian geopolitik.
- Peluang pertumbuhan ada di sektor AI dan saham Asia ex-Japan, didukung valuasi lebih menarik serta prospek ekonomi yang relatif solid.
Jakarta - PT Bank DBS Indonesia membagikan sejumlah rekomendasi strategi investasi pada awal 2026 guna membantu nasabah menjaga ketahanan portofolio di tengah dinamika inflasi, risiko fiskal global, dan ketidakpastian geopolitik.
Director of Consumer Banking Group PT Bank DBS Indonesia, Melfrida Gultom mengatakan investor perlu menerapkan strategi diversifikasi yang disiplin dan berorientasi jangka panjang agar mampu mengelola risiko sekaligus menangkap peluang pertumbuhan.
“Pepatah don’t put all your eggs in one basket relevan dalam investasi. Dengan memanfaatkan berbagai instrumen, nasabah bisa mendiversifikasi portofolio, mengurangi risiko kerugian, dan tetap menangkap peluang keuntungan saat kondisi pasar berubah,” ujar Melfrida dalam keterangannya, Selasa, 3 Maret 2026.
Berikut sejumlah rekomendasi investasi yang disampaikan perseroan:
1. Aset Riil sebagai Jangkar Portofolio
Di tengah potensi inflasi yang dapat kembali meningkat seiring pelonggaran likuiditas global, aset riil seperti infrastruktur, properti, komoditas, dan logam mulia dinilai dapat berperan sebagai jangkar portofolio.
Baca juga: Aplikasi PINTU Listing 10 Tokenisasi Aset Global, Apa Saja?
Ia bilang, secara historis, aset riil cenderung lebih mampu mempertahankan nilai ketika tekanan harga meningkat karena memiliki keterkaitan langsung dengan aktivitas ekonomi nyata.
Selain menjaga daya beli, eksposur pada aset riil juga memberikan manfaat diversifikasi ketika pasar keuangan mengalami volatilitas.
“Dengan memanfaatkan berbagai instrumen, nasabah bisa mendiversifikasi portofolio, mengurangi risiko kerugian, dan tetap menangkap peluang keuntungan saat kondisi pasar berubah,” jelasnya.
2. Emas sebagai Safe Haven
Di tengah kekhawatiran terkait keberlanjutan utang pemerintah global dan ketidakpastian geopolitik, emas tetap dipandang sebagai aset lindung nilai (safe haven).
Menurutnya, meskipun harga emas sempat terkoreksi, sejumlah faktor fundamental yang sebelumnya mendorong harga ke level tertinggi seperti kekhawatiran fiskal Amerika Serikat, risiko depresiasi dolar AS, serta ketegangan geopolitik diperkirakan masih bertahan.
Selain itu, dukungan permintaan dari bank sentral, potensi pelemahan dolar, serta arus investasi melalui instrumen pasar keuangan dinilai dapat menopang prospek emas ke depan.
“Dalam konteks portofolio, emas tidak hanya berfungsi sebagai pelindung saat pasar bergejolak, tetapi juga sebagai alat diversifikasi untuk meredam risiko eksternal,” bebernya.









