Nusa Dua–Bank Indonesia (BI) mengklaim pengkinian data utang luar negeri (ULN) swasta sangat membantu bank sentral dalam memitigasi risiko krisis ekonomi. Hal ini tentu sangat bermanfaat dalam menjaga stabilitas sistem keuangan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan.
Menurut Deputi Gubernur BI, Sugeng, bahwa krisis ekonomi pada periode 1997-1998 menghampiri Indonesia salah satunya akibat eksposur utang luar negeri (ULN) swasta atau korporasi yang berlebihan. Sehingga ketika nilai tukar rupiah ambruk, banyak korporasi tumbang akibat tidak bisa membayar utang-utangnya.
“Saat itu di BI juga masih kekurangan data yang diperlukan. Kita belum membangun secara baik mengenai ULN swasta. Pada waktu itu banyak korporasi yang ternyata punya utang yang outstanding sangat besar,” ujar Sugeng disela ISI Regional Statistics Conference di Nusa Dua, Rabu, 22 Maret 2017. (Bersambung ke halaman berikutnya)
Poin Penting Permata Bank membagikan dividen Rp1,266 triliun atau Rp35 per saham dari laba 2025.… Read More
Poin Penting Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun, menilai BI masih menggunakan pendekatan konvensional… Read More
Poin Penting PT Bank Mandiri (Persero) Tbk akan mengadakan RUPST tahun buku 2025 pada 29… Read More
Poin Penting Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa akan membuka rekrutmen CPNS untuk 300 lulusan SMA/sederajat… Read More
Poin Penting Rupiah ditutup melemah 70 poin (0,41 persen) ke Rp17.105 per dolar AS, menjadi… Read More
Poin Penting CIMB memperluas layanan wealth untuk menangkap pertumbuhan segmen affluent di ASEAN. Strategi ini… Read More