Poin Penting
- Dana asing keluar Rp485,02 miliar pada 8 Mei 2026, dengan total net foreign sell sepanjang tahun mencapai Rp47,82 triliun
- OJK menyebut capital outflow dipicu pembekuan review MSCI serta penyesuaian outlook Moody’s dan FTSE di tengah tekanan global
- Meski ada tekanan pasar, OJK menilai fundamental ekonomi Indonesia tetap solid dan pasar modal masih berpotensi tumbuh.
Jakarta – Dana investor asing atau net foreign sell pada perdagangan Jumat, 8 Mei 2026 kembali tercatat keluar Rp485,02 miliar. Sementara secara year to date (ytd) dana asing telah “kabur” Rp47,82 triliun.
“Tapi tentu kita mencermati capital outflow ini dengan bijaksana, karena hal ini juga terjadi di berbagai emerging market di dunia,” kata Friderica Widyasari Dewi, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam acara Investor Relations Forum 2026 di Jakarta, 11 Mei 2026.
Kiki sapaan akrabnya menjelaskan, keluarnya dana asing tersebut dilatarbelakangi oleh pengumuman dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang membekukan review indeks pasar modal Indonesia.
Baca juga: BEI Catat 5 Saham Ini jadi Penopang Kenaikan IHSG Sepekan
Selain itu, kata Kiki, penyesuaian outlook yang dilakukan oleh lembaga peringkat global seperti Moody’s dan Financial Times Stock Exchange (FTSE) juga turut memengaruhi berbagai hal di pasar.
“Tekanan tersebut yang saya ulangi lagi bahwa ini tidak hanya menjadi tantangan untuk Indonesia market, tetapi ini menjadi bagian dari dinamika global yang juga banyak dialami oleh berbagai negara lain oleh emerging market di dunia,” imbuhnya.
Oleh karena itu, menurutnya, perkembangan tersebut perlu dicermati dengan bijaksana, terukur, dan konstruktif. Kiki juga melihat dari sisi fundamental Indonesia masih solid dan masih memiliki peluang untuk investasi jangka panjang.
“Namun demikian di tengah dinamika yang ada ini kita harus selalu bersyukur bahwa ekonomi Indonesia tetap menunjukkan resiliensi, bahwa ekonomi Indonesia bisa tumbuh 5,61 persen, ini mengikuti juga di Q4 (kuartal IV) tahun lalu yang 5,29 persen,” ujar Kiki.
Baca juga: OJK Panggil Pemegang Saham KoinP2P Usai Petingginya Terseret Kasus Dugaan Korupsi
Di sisi lain, Kiki optimis adanya riviews indeks MSCI hingga penyesuaian outlook dari Mood’ys membuat pasar modal Indonesia punya potential growth level yang diperlukan untuk bisa naik kelas.
“Di dalam konteks ini saya melihat pasar modal Indonesia dituntut untuk memainkan peran yang semakin besar, semakin strategis, di mana tidak hanya untuk saran investasi saja, namun terutama adalah menjadi sumber utama pembiayaan jangka panjang dalam mencapai pertumbuhan ekonomi nasional,” tutup Kiki. (*)
Editor: Galih Pratama


