Poin Penting
- CIMB Niaga menargetkan kredit SME tumbuh 6-8 persen hingga akhir 2026, dengan target penyaluran mencapai sekitar Rp28-Rp28,5 triliun dari posisi semester I sebesar Rp27 triliun
- Pertumbuhan kredit SME didorong melalui bunga kompetitif di tengah tantangan suku bunga tinggi, sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi nasional
- CIMB Niaga tetap menerapkan prinsip kehati-hatian dalam penyaluran kredit SME, dengan menjaga rasio NPL di bawah 3 persen melalui seleksi nasabah.
Jakarta – PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) menargetkan pertumbuhan dari segmen bisnis Small Medium Enterprise (SME) pada akhir 2026 sekitar 6-8 persen.
Head of Emerging Business Banking CIMB Niaga, Tony Tardjo, mengatakan hingga akhir tahun ini ditargetkan kredit dari segmen SME dapat bertambah Rp1 triliun menjadi Rp28,5 triliun.
“Kita mengharapkan paling nggak akhir tahun bisa mungkin bertambah Rp1 triliun, mungkin Rp28 triliun- Rp28,5 triliun lah. Itu mungkin tujuan yang kita harapkan,” ucap Tony kepada media dikutip, 27 Agustus 2026.
Baca juga: CIMB Niaga Hadirkan Preferred BOSS, Solusi Keuangan untuk Pengusaha
Hingga semester I 2026, Tony menyebut penyaluran kredit segmen SME CIMB Niaga mencapai Rp27 triliun atau tumbuh sekitar 2,3 persen.
Menurutnya, segmen kredit SME ini perlu terus didorong karena berperan sebagai pendukung dari pertumbuhan ekonomi Indonesia. Saat ini, pemerintah juga telah memberikan bantuan stimulus untuk pertumbuhan kredit SME.
“Dari CIMB Niaga sendiri menyiasati dukungan untuk segmen kredit SME-nya melalui penawaran bunga yang kompetitif di tengah tantangan era suku bunga tinggi saat ini,” jelasnya.
“Karena kami melihat salah satu tantangan SME kan suku bunga lah ya dan dengan suku bunga yang kompetitif, diharapkan pertumbuhan loan-nya bisa lebih cepat. Jadi kita coba kejar, sampai akhir tahun ini kita bisa bertumbuh, bisa mungkin 7-8 persen lah diharapkan pada akhir tahun ini,” tambahnya.
Baca juga: CIMB Niaga Prediksi Ekonomi RI Tumbuh 4,9 Persen pada Kuartal IV 2026, Ini Alasannya
Penyaluran kredit SME juga dilakukan dengan prudent. Ini tercermin rasion non performing loan (NPL) SME berada di level 3 persen.
“Strategi kami untuk menjaga NPL di bawah tiga persen adalah melakukan seleksi terhadap nasabah-nasabahnya dan terus menekankan prinsip kehati-hatian,” jelasnya. (*)
Editor: Galih Pratama


