Oleh Eko B Supriyanto, Pimpinan Redaksi InfoBank Media Group
LEBARAN baru saja tiba. Suara takbir berganti dengan hiruk pikuk mudik dan fitri. Kantong masyarakat agak lega karena THR, tetapi jangan salah. Dalam dunia ekonomi, tidak ada makan siang gratis. Setelah euforia, harus segera pasang kuda-kuda. Agar tidak boncos dan terlilit utang jahat.
Kenapa? Karena dunia sedang panas. Perang Iran vs Israel bukan lagi sekadar saling kirim rudal di antara dua negara saja. Ini adalah ancaman nyata yang akan merembes langsung ke dapur rumah tangga Indonesia. Meski Indonesia tidak terlibat perang, tapi pasti kena imbasnya. Bagi masyarakat umum, khususnya rumah tangga di Indonesia, saatnya mengembalikan prinsip klasik yang sering ditulis Infobank: Cash is The King.
Pertama: Harga BBM dan Efek Domino yang Tak Terhindarkan
Perang di Timur Tengah selalu identik dengan lonjakan harga minyak mentah dunia. Iran dan Israel adalah dua aktor kunci. Jika konflik memanas, suplai minyak terganggu, maka harga minyak mentah (crude) bisa tembus ke level yang membuat Menteri Keuangan geleng-geleng kepala.

Indonesia memang sudah tidak menjadi pengimpor BBM besar-besaran seperti dulu? Eh, jangan salah. Indonesia masih impor. APBN masih rentan terhadap subsidi energi. Jika harga minyak mentah naik, ada dua kemungkinan: pemerintah menaikkan harga BBM subsidi atau pemerintah menahan dengan membengkaknya subsidi.
Kedua opsi itu sama-sama menyakitkan. Jika harga BBM naik, maka ongkos angkut naik. Jika ongkos angkut naik, harga bahan pokok naik. Ini bukan isapan jempol. Ini hitung-hitungan sederhana yang dipahami oleh ibu-ibu di pasar.
Kedua: Rupiah Longsor, Uang Kita “Dikempesi”
Ini yang lebih mengerikan. Perang membuat investor global panik. Mereka lari dari aset berisiko seperti rupiah, menuju dolar AS yang dianggap aman (safe haven). Akibatnya, nilai tukar rupiah longsor. Kita sudah melihatnya pekan lalu, dan ini akan berlanjut pascalebaran. Nilai rupiah sudah di atas Rp17.000, dan jika perang berlanjut tahun ini rupiah akan longsor ke Rp17.300-Rp17.600.
Apa dampaknya buat rumah tangga? Inflasi impor. Kita mengimpor banyak hal, mulai dari gandum, kedelai, hingga barang-barang elektronik. Rupiah melemah artinya harga barang-barang ini di dalam negeri akan naik. Daya beli masyarakat yang baru saja “dipompa” THR akan tergerus perlahan tapi pasti.
Ketiga: Tekanan Fiskal dan Jebakan Konsumsi
Pemerintah, dalam hal ini fiskal, akan terjepit. Anggaran untuk subsidi energi membengkak, sementara pendapatan negara mungkin melambat. Belanja infrastruktur dan bantuan sosial (bansos) akan direvisi. Sementara anggaran Makan Bergizi Gratis (MBG) tetap dipertahankan.
Inilah saatnya masyarakat umum harus lebih cerdas dari pemerintah. Jangan berharap bansos akan selalu mengalir deras. Anggaran terbatas.
Baca juga: Momentum Idul Fitri, Prabowo Ajak Masyarakat Lebih Solid, Bersatu dan Perkuat Silaturahmi
Catatan Infobank, masyarakat Indonesia punya kebiasaan buruk setelah Lebaran: konsumtif. Gaya hidup fomo (fear of missing out), belanja barang mewah, atau ganti gadget baru. Jika dilakukan tanpa perhitungan, ketika badai ekonomi datang—saat harga kebutuhan pokok naik 10-20% dalam tiga bulan ke depan—rumah tangga akan kehabisan amunisi.
Mengapa “Cash is The King”?
Prinsip Cash is The King sering disalahartikan. Ini bukan berarti menyimpan uang di bawah bantal lalu tidak pernah membelanjakannya. Ini soal likuiditas.
Di saat krisis atau ketidakpastian seperti ini, yang namanya aset seperti tanah, emas, atau saham itu memang bagus, tapi tidak likuid. Butuh waktu untuk mencairkan. Sementara kebutuhan sehari-hari—beras, minyak, susu anak—harus dibayar tunai setiap hari.
Dengan memegang kas yang cukup (dalam rupiah), masyarakat memiliki tiga keuntungan:
Satu, fleksibilitas: Anda tidak perlu jual aset di saat harga sedang anjlok karena panik.
Dua, daya tahan: Anda bisa bertahan menghadapi kenaikan harga selama 3-6 bulan ke depan tanpa harus berutang ke rentenir atau pinjaman online (pinjol) yang bunganya mencekik.
Tiga, opportunity: Ketika orang lain panic selling, jika Anda punya kas, Anda bisa beli aset murah. Tapi itu nanti dulu. Prioritas pertama adalah bertahan.
Tips untuk Rumah Tangga Indonesia
Tulisan ini tidak ingin bikin resah, tapi ingin menggugah kesadaran. Ini bukan prediksi kiamat, ini manajemen risiko.
Pertama, evaluasi ulang rencana belanja pascalebaran. Tahan keinginan untuk membeli barang yang sifatnya “ingin” bukan “butuh”. Mobil baru, ganti motor, atau renovasi rumah kalau belum mendesak, tunda dulu. Simpan uangnya untuk beli beras dan minyak goreng yang akan naik harganya.
Kedua, kurangi ketergantungan pada utang konsumtif. Jangan gunakan kartu kredit atau pinjol untuk membiayai gaya hidup. Di saat suku bunga naik dan ekonomi melambat, utang konsumtif adalah batu sandung yang akan membebani kepala.
Ketiga, diversifikasi mata uang jika memungkinkan. Bagi yang memiliki akses, memiliki sedikit tabungan dalam bentuk Dolar AS atau emas batangan (yang likuid) adalah bentuk lindung nilai (hedging). Tapi ingat, jangan spekulasi. Ini untuk proteksi.
Keempat, fokus pada produktivitas. Daripada pusing mikirin kurs dolar yang naik, lebih baik pikirkan bagaimana menambah pendapatan. Ekonomi rumah tangga harus punya “napas”. Kalau hanya mengandalkan gaji bulanan, dalam kondisi inflasi tinggi, itu tidak cukup.
Pemerintah akan berusaha menahan gejolak. Bank Indonesia akan masuk pasar. Tapi jujur tidak bisa bergantung pada intervensi pemerintah setiap hari.
Baca juga: Jerat Defisit APBN: Menkeu Purbaya, Bunga Utang Menggunung dan Tax Ratio yang Rendah
Indonesia sedang menghadapi perfect storm: gejolak geopolitik global, tekanan nilai tukar, dan potensi kenaikan harga energi pascalebaran. Bagi rumah tangga Indonesia, ini bukan saatnya gengsi atau bergaya hidup tinggi. Ini saatnya realistis.
Ingat pepatah lama: Sedia payung sebelum hujan. Payungnya adalah kas yang cukup. Uang tunai di rekening tabungan, atau dalam bentuk yang mudah dicairkan, adalah “bensin” bagi mesin rumah tangga Anda. Biarkan mesin itu tetap menyala selama musim sulit ini.
Sekali lagi, Cash is The King. Jangan sampai kita terjebak dalam ilusi kekayaan kertas, sementara perut keluarga kosong.
Selamat bekerja kembali. Jaga likuiditas, jaga keluarga serta jaga kesehatan yang makin mahal.
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H. Mohon Maaf Lahir dan Batin. (*)










