Poin Penting:
- Amartha meluncurkan Indonesia Coalition for Financial Health untuk menyusun definisi dan indikator kesehatan finansial bagi UMKM, petani kecil, dan pekerja informal.
- Koalisi akan menjadi wadah kolaborasi lintas sektor untuk mengembangkan dan memperluas berbagai inisiatif peningkatan kesehatan finansial masyarakat akar rumput.
- Fokus penguatan ekonomi masyarakat kini bergeser dari sekadar akses pembiayaan menuju peningkatan ketahanan dan kesejahteraan finansial jangka panjang.
Jakarta – Perusahaan teknologi finansial, Amartha, bersama sejumlah pemangku kepentingan resmi meluncurkan Indonesia Coalition for Financial Health dalam gelaran The 2026 Asia Grassroots Forum di Jakarta, Kamis (4/6/2026).
Koalisi ini dibentuk untuk merumuskan definisi serta standar pengukuran kesehatan finansial bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), petani kecil, serta pekerja informal di Indonesia.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat akar rumput yang selama ini tidak hanya menghadapi tantangan akses pembiayaan, tetapi juga kerentanan terhadap berbagai risiko ekonomi dan sosial.
Founder & CEO Amartha Financial, Andi Taufan Garuda Putra, menilai bahwa peningkatan inklusi keuangan harus diikuti dengan penguatan kesehatan finansial agar pelaku usaha mampu bertahan dan berkembang secara berkelanjutan.
Dalam forum yang memasuki tahun ketiga penyelenggaraannya itu, berbagai pemangku kepentingan dari sektor keuangan, teknologi, investor, hingga pelaku UMKM berkumpul untuk membahas strategi mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif dan berdaya tahan.
Baca juga: SBY: Pertumbuhan Tinggi Tak Menjamin Stabilitas jika Ketimpangan Membesar
Amartha Rumuskan Definisi Kesehatan Finansial UMKM
Melalui Indonesia Coalition for Financial Health, Amartha bersama mitra lintas sektor akan memulai langkah awal dengan menyusun definisi bersama mengenai kesehatan finansial bagi kelompok masyarakat yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi nasional.
“Yang pertama kali kita lakukan adalah merumuskan bersama bagaimana kita mendefinisikan kesehatan finansial buat UMKM, petani kecil, dan pekerja informal,” ujar Taufan.
Menurut Taufan, konsep kesehatan finansial masih relatif baru di Indonesia. Karena itu, diperlukan kesepahaman lintas sektor agar intervensi yang dilakukan dapat terukur dan memberikan dampak nyata terhadap kesejahteraan masyarakat akar rumput.
Ia menjelaskan, setelah definisi dan indikator disepakati, koalisi akan berfungsi sebagai wadah kolaborasi untuk menguji berbagai inisiatif yang dapat meningkatkan daya tahan finansial kelompok sasaran.
Koalisi Jadi Laboratorium Kolaborasi Lintas Sektor
Taufan mengatakan, pendekatan yang digunakan dalam koalisi ini tidak berhenti pada diskusi dan penyusunan konsep. Koalisi akan menjadi ruang eksperimen untuk mengembangkan berbagai solusi yang dapat direplikasi dalam skala lebih luas.
“Kita berkolaborasi lintas sektor dan bertahap bisa scale up inisiatif yang bisa creating bigger impact at scale,” kata Taufan.
Menurutnya, tantangan yang dihadapi masyarakat akar rumput saat ini telah berkembang dari sekadar kebutuhan akses modal. Di tengah berbagai ketidakpastian ekonomi, pelaku usaha mikro membutuhkan ekosistem yang mampu membantu mereka menjadi lebih produktif, adaptif, dan tangguh secara finansial.
Ia mencontohkan, banyak pelaku usaha informal yang harus kembali memulai dari nol ketika menghadapi bencana alam atau kondisi darurat karena belum memiliki tabungan maupun perlindungan keuangan yang memadai. Karena itu, penguatan aspek seperti tabungan, asuransi mikro, dan layanan keuangan lain menjadi bagian penting dalam agenda kesehatan finansial.
Baca juga: Amartha Bidik Pembiayaan Tumbuh 20 Persen di 2026, Begini Strateginya
Dorong Ekonomi Akar Rumput Lebih Tangguh
Komisaris Utama Amartha, Rudiantara, menilai isu kesehatan finansial semakin relevan karena tingkat inklusi keuangan Indonesia telah mencapai lebih dari 90 persen, sementara tingkat literasi keuangan masih tertinggal.
Menurut dia, tantangan berikutnya bukan lagi membuka akses ke layanan keuangan, melainkan memastikan masyarakat mampu mengelola keuangan secara sehat dan berkelanjutan.
Rudiantara menegaskan bahwa kolaborasi antara pemerintah, industri keuangan, investor, penyedia teknologi, dan komunitas menjadi faktor penting untuk memperkuat literasi sekaligus kesehatan finansial masyarakat.
Peluncuran Indonesia Coalition for Financial Health diharapkan menjadi titik awal lahirnya standar baru dalam mengukur kesejahteraan finansial masyarakat akar rumput.
Dengan pendekatan kolaboratif tersebut, Amartha berharap dapat mendorong terciptanya ekosistem keuangan yang tidak hanya inklusif, tetapi juga mampu meningkatkan daya tahan ekonomi UMKM secara berkelanjutan. (*)
Editor: Galih Pratama


