Poin Penting
- Rupiah di atas Rp18.000 per dolar AS membuat beban utang pemerintah dalam rupiah meningkat
- Purbaya mengatakan pelemahan rupiah memperbesar biaya pembayaran utang valas
- Pemerintah memastikan pelemahan rupiah masih dalam asumsi APBN 2026 yang telah disesuaikan.
Jakarta – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengakui tekanan terhadap nilai tukar rupiah yang menembus Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) bakal memengaruhi beban pembayaran utang pemerintah yang berdenominasi dolar.
Adapun meknisme pembayaran utang harus mengubah nilai rupiah yang masuk dalam bentuk penerimaan negara di APBN menjadi dolar AS kepada investor pemegang surat berharga negara (SBN).
Baca juga: Rupiah Jebol Rp18.000 per Dolar AS, BI Bilang Begini
Sebagai informasi, pada perdagangan hari ini, Kamis (4/6/2026) rupiah berada di Rp18.043 per dolar AS atau melemah 0,43 persen pada pukul 13.55 WIB.
“Pembayaran utang kan lewat ini kan, lewat bond ya. Kuponnya sih konstan, cuma pada waktu rupiah melemah ya meningkat kan dalam rupiah pembayarannya,” ucap Purbaya saat ditemui di Kompleks DPR RI, Kamis, 4 Juni 2026.
Baca juga: Menguji Optimisme Menteri Purbaya Soal Rupiah
Meski demikian, Purbaya memastikan pemerintah telah melakukan penyesuaian asumsi makro dalam APBN 2026, termasuk kurs rupiah. Penyesuaian tersebut dilakukan sejak adanya konflik geopolitik AS-Iran. Di mana sebelumnya asumsi rupiah dalam APBN 2026 sebesar Rp16.500 per dolar AS.
“Cuma kan gini, ini masih dalam range perhitungan kita yang sebelumnya saya sebutkan itu,” pungkasnya. (*)
Editor: Galih Pratama


