Poin Penting
- Laba BRI mencapai Rp15,5 triliun, tumbuh 13,7 persen yoy di kuartal I 2026, ditopang kredit Rp1.562 triliun, mayoritas UMKM
- Pendapatan bunga BRI naik, beban bunga turun, DPK tumbuh 9,4 persen didorong CASA
- NPL BRI naik, tapi risiko terkendali; profitabilitas meningkat (RoA 2,8 persen, RoE 18,4 persen).
Jakarta – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) membukukan laba bersih secara konsolidasi sebesar Rp15,5 triliun hingga kuartal I 2026. Angka tersebut tumbuh 13,7 persen secara tahunan atau year on year (yoy).
“BRI berhasil mencatatkan laba bersih pada triwulan I 2026 sebesar Rp15,5 triliun atau tumbuh 13,7 persen secara year on year,” ujar Heri Gunardi, Direktur Utama BRI dalam konferensi pers Kinerja Kuartal I 2026, Kamis, 30 April 2026.
Laba tesebut ditopang oleh realisasi kredit dan pembiayaan yang disalurkan BRI meningkat 13,7 persen yoy menjadi Rp1.562 triliun di Maret 2026.
Baca juga: Perkuat Kepemimpinan Perempuan, BRI Borong 3 Penghargaan di Infobank 500 Most Outstanding Women 2026
Jika dirinci, penyaluran kredit BRI tersalurkan kepada UMKM mencapai Rp1.211 triliun, sementara Kredit Usaha Rakyat (KUR) Rp47,09 triliun yang telah menjangkau 947 ribu nasabah.
BRI juga tercatat menyalurkan fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP) sebesar Rp17,13 triliun kepada 125 ribu nasabah pinjaman.
Seiring dengan peningkatan tersebut, kualitas kredit BRI mengalami tekanan. Ini tercermin dari non performing loan (NPL) gross yang naik menjadi 3,31 persen. Sedangkan NPL net juga naik menjadi 1,01 persen.
Dari realisasi kredit selama tiga bulan pertama tahun 2026, BRI mampu mendongrak pendapatan bunga 5,94 persen yoy menjadi sebesar Rp52,83 triliun. BRI juga berhasil menekan beban bunga yang susut 9,31 persen menjadi Rp12,68 triliun.
Adapun rasio keuangan lainnya, loan at risk atau LAR BRI tercatat menurun menjadi 9,7 persen di kuartal I 2026 dibandingkan 11 persen pada kuartal I 2025.
“Penurunan ini mencerminkan bahwa risiko dalam portfolio kredit semakin terkendali seiring dengan penguatan proses manajemen risiko dan kualitas penyaluran kredit yang lebih selektif,” ujar Hery.
Selain itu, cost of fund BRI juga turun menjadi 2,3 persen di kuartal I 2026, dibandingkan tahun lalu pada periode sama yang sebesar 3 persen.
Hery menyebut, hal ini menunjukkan efektivitas strategi perseroan dalam memperkuat dana murah (CASA) dan mengelola struktur pendanaan yang lebih sehat dan lebih efisien, sehingga memberikan ruang yang lebih baik bagi margin ke depan.
Baca juga: Kapan Dividen BRI Rp52,1 Triliun Cair? Cek Tanggalnya!
Dari sisi penghimpunan dana, hingga Maret 2026 total dana pihak ketiga (DPK) BRI Rp1.555 triliun, tumbuh 9,4 persen yoy. Pencapaian DPK tersebut ditopang oleh dana murah yang mencapai Rp1.058,6 triliun atau tumbuh 13,2 persen yoy.
Sementara rasio perbandingan pinjaman terhadap simpanan alias loan to deposit ratio (LDR) meningkat menjadi 87,66 persen per kuartal I 2026. Selanjutnya, return on asset (RoA) juga naik menjadi 2,8 persen dan return on equity (RoE) naik dari 17,1 persen di kuartal I 2025 menjadi 18,4 persen pada kuartal I 2026.
Menutup kuartal I 2026, total aset BRI meningkat 7,2 persen yoy menjadi Rp2.205 triliun per Maret 2026. (*)
Editor: Galih Pratama




