Poin Penting:
- BPJS Kesehatan mencatat aset bersih Dana JKN mencapai Rp30,04 triliun pada akhir 2025 dengan kondisi keuangan yang diklaim tetap sehat.
- Jumlah peserta JKN mencapai 282,7 juta jiwa dengan total 725,3 juta pemanfaatan layanan kesehatan sepanjang 2025.
- Program JKN berkontribusi terhadap PDB hingga Rp129 triliun dan menciptakan sekitar 3,5 juta lapangan kerja berdasarkan kajian LPEM FEB UI.
Jakarta – Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan memastikan kondisi keuangan Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) tetap sehat hingga akhir 2025.
Hal itu tercermin dari aset bersih Dana Jaminan Sosial (DJS) Kesehatan yang mencapai Rp30,04 triliun.
Direktur Utama BPJS Kesehatan Prihati Pujowaskito mengatakan, capaian tersebut menjadi modal penting untuk menjaga keberlanjutan Program JKN.
Dana tersebut juga setara dengan kemampuan membayar estimasi klaim selama 1,88 bulan sesuai ketentuan.
Di sisi lain, jumlah peserta JKN telah mencapai 282,7 juta jiwa atau 98,62 persen dari total penduduk Indonesia.
Sepanjang 2025, pemanfaatan layanan kesehatan juga menembus 725,3 juta kunjungan.
Baca juga: Obat Non-BPJS Naik 20 Persen, Tekanan Klaim Asuransi Kesehatan Makin Berat?
BPJS Kesehatan Jaga Keberlanjutan Dana JKN
Menurut Pujo, sapaan Prihati Pujowaskito, Program JKN tidak hanya menjamin pembiayaan layanan kesehatan. Program itu juga menjadi fondasi pembangunan SDM yang sehat dan produktif.
“Program JKN bukan sekadar memberikan jaminan pembiayaan pelayanan kesehatan, tetapi juga menjadi fondasi bagi terciptanya SDM Indonesia yang sehat, produktif, dan berdaya saing,” ujarnya dalam paparan publik Pengelolaan Program dan Laporan Keuangan BPJS Kesehatan Tahun 2025 di Jakarta, dikutip Antara, Kamis (2/7).
BPJS Kesehatan juga mencatat lebih dari 725,3 juta pemanfaatan layanan kesehatan sepanjang 2025. Angka itu setara dengan rata-rata lebih dari 1,9 juta layanan setiap hari.
Pujo menilai tingginya angka pemanfaatan mencerminkan kepercayaan masyarakat terhadap Program JKN. Akses layanan kesehatan juga terus meningkat dari tahun ke tahun.
Transformasi Digital dan Opini WTM Berlanjut
Untuk memperluas akses layanan, BPJS Kesehatan terus mengembangkan transformasi digital. Layanan tersebut meliputi Aplikasi Mobile JKN, PANDAWA melalui WhatsApp, dan Care Center 165.
Kerja sama dengan fasilitas kesehatan juga terus diperluas.
Hingga akhir 2025, BPJS Kesehatan telah bermitra dengan 23.770 Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP), 3.194 Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjutan (FKRTL), dan 6.190 fasilitas kesehatan penunjang.
Hasil investasi DJS Kesehatan pada 2025 tercatat sebesar Rp3,94 triliun. Menurut Pujo, capaian itu menunjukkan pengelolaan dana dilakukan secara hati-hati untuk menjaga keberlanjutan Program JKN.
Pada tahun buku 2025, BPJS Kesehatan juga kembali meraih opini Wajar Tanpa Modifikasi (WTM). Opini tersebut diperoleh untuk ke-12 kali secara berturut-turut.
Baca juga: BPJS Kesehatan Tekor Rp2 Triliun per Bulan, DPR Desak Reformasi Pembiayaan JKN
BPJS Kesehatan Sebut JKN Dorong Ekonomi Nasional
Pujo mengatakan manfaat Program JKN tidak hanya dirasakan di sektor kesehatan. Program tersebut juga memberikan dampak terhadap perekonomian nasional.
Berdasarkan kajian LPEM FEB UI, Program JKN berkontribusi terhadap peningkatan Produk Domestik Bruto (PDB) hingga Rp129 triliun. Program itu juga menciptakan sekitar 3,5 juta lapangan kerja.
Kajian tersebut menunjukkan Program JKN menyelamatkan sekitar 8,1 juta penduduk dari kemiskinan pada periode 2018–2019. Selain itu, sekitar 16 juta penduduk terlindungi dari risiko jatuh miskin akibat biaya kesehatan.
Setiap kenaikan satu persen kepesertaan JKN juga diperkirakan meningkatkan pengeluaran per kapita sebesar 2,71 persen.
Di akhir pemaparannya, BPJS Kesehatan menegaskan keberlanjutan Program JKN menjadi fondasi bagi kesehatan masyarakat sekaligus pertumbuhan ekonomi nasional. (*)
Editor: Galih Pratama


