Poin Penting
- BPDP memperkuat diplomasi dan membuka pasar baru sawit di Rusia dan EAEU melalui INNOPROM 2026
- GAPKI menandatangani MoU dengan mitra Rusia dan EAEU untuk promosi dan perluasan akses pasar sawit
- Kerja sama ini ditujukan meningkatkan daya saing dan ekspor sawit Indonesia secara berkelanjutan.
Jakarta – Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) memperkuat diplomasi ekonomi dan perluasan pasar sawit Indonesia melalui partisipasi pada INNOPROM 2026 di Yekaterinburg, Rusia, serta dukungan terhadap penandatanganan MoU antara Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) dengan mitra industri Rusia dan Eurasia di KBRI Moskow.
MoU ditandatangani Ketua Umum GAPKI, Eddy Martono, bersama perwakilan The Fat and Oil Union of Russia dan Association of Enterprises of Fat and Oil Industry of the Eurasian Economic Union (EAEU), pada Kamis, 10 Juli 2026.
Penandatanganan disaksikan Direktur Hukum dan Kerja Sama BPDP, Pangihutan Siagian, dan Duta Besar RI untuk Federasi Rusia dan Republik Belarus, H.E. Jose Tavares.
Pangihutan Siagian menyampaikan, kerja sama ini merupakan langkah strategis memperluas jejaring kemitraan internasional dan membuka peluang pasar baru bagi produk sawit Indonesia.
Baca juga: B50 Diterapkan Per 1 Juli, Sawit jadi Senjata RI Lepas dari Impor Solar
“BPDP menyambut baik kerja sama ini sebagai upaya memperkuat posisi industri sawit Indonesia di pasar global. Kolaborasi dengan mitra di Rusia diharapkan dapat meningkatkan pertukaran informasi, promosi, serta membuka peluang kerja sama yang saling menguntungkan,” ujar Pangihutan dalam keterangannya, Selasa (14/7).
MoU tersebut mencakup pertukaran informasi, promosi perdagangan, peningkatan kapasitas, pengembangan standar industri, dan perluasan akses pasar sawit Indonesia ke Rusia serta negara anggota EAEU.
Pada forum bisnis INNOPROM 2026, BPDP menjadi narasumber dengan tema pembiayaan sawit berkelanjutan dan pengembangan biodiesel Indonesia. Ini bagian dari upaya memperkenalkan perkembangan industri sawit nasional, termasuk hilirisasi, riset dan inovasi, implementasi biodiesel B50, serta potensi investasi dan kerja sama internasional.
Duta Besar RI, H.E. Jose Tavares, mengapresiasi kerja sama tersebut. Ia berharap MoU dapat diimplementasikan nyata dan memberi manfaat bagi semua pihak, serta memperkuat hubungan perdagangan Indonesia dengan Rusia dan EAEU. KBRI Moskow juga berkomitmen mendukung inisiatif penguatan ekonomi bilateral.
Baca juga: ISEI Riau Desak Pemerintah Ubah Skema DBH Sawit, Tolak Porsi 4 Persen untuk Daerah
Kerja sama ini sejalan dengan peningkatan hubungan Indonesia–Rusia menjadi Strategic Partnership sejak 2025. Perjanjian Perdagangan Bebas Indonesia–EAEU yang ditandatangani akhir 2025 juga ditargetkan berlaku 2027, sehingga membuka peluang perdagangan sawit dan produk turunannya.
BPDP menegaskan komitmen memperkuat daya saing sawit Indonesia melalui SDM, riset, bioenergi, dan promosi internasional. Partisipasi di INNOPROM 2026 dan dukungan MoU ini merupakan strategi memperluas kemitraan global dan membuka pasar baru bagi sawit Indonesia yang berkelanjutan. (*) DW


