Poin Penting
- BEI optimistis prospek ekonomi dan IHSG membaik usai pemaparan KEM-PPKF RAPBN 2027 oleh Presiden Prabowo
- Jeffrey Hendrik menilai pertumbuhan ekonomi dan kemudahan investasi akan menopang pergerakan IHSG, meski hari ini ditutup turun 0,60 persen
- Pemerintah menargetkan defisit RAPBN 2027 sebesar 1,80–2,40 persen PDB dengan fokus menjaga fiskal dan mendukung program prioritas.
Jakarta – Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI), Jeffrey Hendrik, menyatakan optimis terhadap prospek ekonomi Indonesia setelah Presiden Prabowo Subianto menyampaikan kebijakan ekonomi makro dan pokok-pokok kebijakan fiskal (KEM-PPKF) RAPBN 2027.
“Oh kita optimis, optimis dengan propsek ekonomi kita,” ucap Jeffrey saat ditemui di Gedung BEI Jakarta, 20 Mei 2026.
Menurut Jeffrey, dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang lebih tinggi dapat mendukung kemudahan dalam berinvestasi. Ini juga akan berdampak pada pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Baca juga: MSCI Sudah Keluarkan Kartu Merah, Dasco Cs Sudah Datang: Saham Kok Masih Rontok, Sih? Jangan-Jangan Sebagian Besar Saham “Busuk”
“(Optimis terhadap IHSG?) Iya, dengan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, dengan kemudahan berusaha dan investasi tentu kita optimis,” imbuhnya.
Namun, IHSG kembali ditutup merosot ke level 6.332,17 atau melemah 0,60 persen, meski sempat menguat pada posisi 6.459,55 pada perdagangan sesi I hari ini.
Jeffrey bilang kondisi IHSG yang merah tersebut merupakan respons secara teknikal dari pergerakan pasar.
Di tempat terpisah, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan bahwa pemerintah telah menyiapkan kisaran defisit antara 1,80 persen hingga maksimal 2,40 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan fiskal negara sekaligus mendukung program prioritas nasional.
Baca juga: Saham BBTN Naik 1,18 Persen saat IHSG Anjlok, Ini Pemicunya
Dalam kerangka RAPBN 2027, pemerintah juga menetapkan target pendapatan negara pada kisaran 11,82 persen hingga 12,40 persen dari PDB.
Sementara itu, belanja negara diproyeksikan berada di rentang 13,62 persen sampai 14,80 persen dari PDB guna mendukung berbagai program prioritas pemerintahan. (*)
Editor: Galih Pratama


