Poin Penting
- Bank Mandiri sebutt etidakpastian global, termasuk eskalasi geopolitik, berpotensi mengganggu rantai pasok serta memicu volatilitas pasar, akan menjadi tantangan industri perbankan
- Di dalam negeri, tekanan harga energi dan pelemahan daya beli dapat berdampak pada kualitas kredit, terutama di sektor yang sensitif terhadap perlambatan ekonomi
- Bank Mandiri fokus pada digitalisasi, ekspansi ekosistem, dan penyaluran kredit selektif. Kualitas aset tetap terjaga dengan NPL 0,98 persen, coverage 245 persen, serta CAR di atas 19 persen.
Jakarta – Direktur Utama Bank Mandiri Riduan membeberkan sejumlah tantangan bagi industri perbankan di sisa 2026, mulai dari ketidakpastian global hingga kondisi perekonomian domestik.
Dari sisi global, kata Riduan, eskalasi geopolitik masih berpotensi mengganggu rantai pasok serta memicu volatilitas harga komoditas dan pasar keuangan di Indonesia maupun regional maupun dunia.
Kemudian, lanjut Riduan, arah kebijakan suku bunga ke depan juga diperkirakan masih sangat bergantung pada perkembangan inflasi dan stabilitas nilai tukar, serta dinamika global yang terus bergerak secara dinamis.
“Tantangan selanjutnya arah suku bunga ke depan yang masih sangat bergantung pada perkembangan inflasi dan stabilitas nilai tukar serta dinamika global yang terus bergerak secara dinamis,” jelas Riduan dalam konferensi pers kinerja kuartal I 2026, Selasa, 21 April 2026.
Baca juga: Bank Mandiri Bukukan Laba Rp15,4 Triliun di Kuartal I 2026, Tumbuh 16,6 Persen
Sementara dari sisi domestik, kata Riduan, tekanan terhadap harga energi dan pelemahan daya beli masyarakat perlu terus diwaspadai. Pasalnya, hal tersebut bisa berdampak pada profil risiko dari debitur-debitur Bank Mandiri yang memiliki hubungan terhadap beberapa komoditas tertentu yang terpengaruh harga di tingkat global.
“Paling utama adalah ketidakpastian global dan situasi domestik akibat dari pengaruh global dan maupun kondisi internal dari Indonesia. Kemudian dinamika suku bunga serta kualitas kredit pada sektor-sektor yang sensitif terhadap perlambatan ekonomi,” kata Riduan.
Mitigasi Risiko Tantangan Industri Perbankan
Untuk memitigasi risiko tersebut, Bank Mandiri akan fokus pada perluasan penetrasi ekosistem dari Mandiri Group, peningkatan aktivitas dan transaksi nasabah serta akselerasi dari digitalisasi layanan perbankan yang diberikan oleh Mandiri Group.
“Di saat yang sama kami juga menjaga kualitas pertumbuhan melalui penyaluran kredit yang selektif ke sektor-sektor yang prospektif dan resilient, serta monitoring portfolio secara ketat serta stress testing secara berkala,” jelasnya.
Dengan langkah tersebut, Riduan meyakini kualitas aset perseroan tetap solid. Tercermin hingga Maret 2026, bank berlogo pita emasi ini mencatatkan rasio non-performing loan (NPL) terjaga di bawah satu persen atau 0,98 persen dengan NPL coverage ratio sebesar 245 persen.
“Pada saat yang sama kami juga menjaga buffer permodalan yang kuat dengan CAR di atas 19 persen untuk menghadapi berbagai skenario tantangan ke depan,” imbuhnya.
Dinamika Suku Bunga
Sementara itu, dalam menghadapi dinamika suku bunga, fokus Bank Mandiri bukan pada spekulasi arah suku bunga, melainkan memastikan struktur pendanaan, likuiditas, dan portfolio mix agar tetap adaptif.
Oleh karena itu, Bank Mandiri terus memperkuat CASA yang berasal dari transaksional banking melalui akselerasi transaksi nasabah dan penguatan ekosistem digital yang sekaligus mendorong pertumbuhan fee-based income recurring serta menjaga profitabilitas yang berkelanjutan.
Baca juga: Bank Mandiri Salurkan Kredit Infrastuktur Capai Rp491,63 Triliun hingga Februari 2026
Selain itu, Bank Mandiri juga tetap berkomitmen untuk mendukung pembiayaan UMKM, memperkuat ekonomi kerakyatan, serta menjalankan agenda strategis pemerintah lainnya.
“Dengan fundamental yang kuat, Bank Mandiri optimis dapat menjaga pertumbuhan yang berkelanjutan sekaligus memperkuat peran sebagai agent of development bagi pembangunan perekonomian Indonesia,” pungkasnya. (*)
Editor: Galih Pratama








