Poin Penting
- BTN mencatat pertumbuhan kredit 7,7 persen hingga Juni 2026 dan menargetkan pertumbuhan 8-10 persen sampai akhir 2026
- BNI menargetkan NIM 3,3-3,5 persen pada 2026, dengan pertumbuhan kredit dan PPOP menjadi penopang di tengah tekanan margin
- Memasuki semester II 2026, BNI fokus menjaga likuiditas, permodalan, CASA, serta menyalurkan kredit secara selektif untuk mempertahankan margin.
Jakarta – PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) terus menggenjot fungsi intermediasinya. Hingga Juni 2026, penyaluran kredit BTN tumbuh 7,7 persen secara tahunan (yoy). Perseroan menargetkan pertumbuhan kredit mencapai 8-10 persen hingga akhir 2026.
Direktur Finance & Strategy BNI Hussein Paolo Kartadjoemena mengatakan, capaian kredit di semester I 2026 tersebut menunjukkan momentum pertumbuhan dan permintaan yang masih cukup kuat, serta didukung oleh kecukupan likuiditas yang memadai.
“Per Juni ini memang pertumbuhan kredit mencapai 7,7 persen secara year to date. Sementara untuk target full year adalah di 8 hingga 10 persen secara year on year,” kata Paolo dalam Pubex Live, Rabu, 9 September 2026.
Baca juga: BNI Dorong Literasi Keuangan Generasi Muda lewat Lampung Financial Festival 2026
Sementara itu, BNI juga menargetkan Net Interest Margin (NIM) berada di kisaran 3,3 hingga 3,5 persen di 2026. Meski demikian, Paolo mengakui NIM sedikit mengalami tekanan di tahun ini akibat persaingan suku bunga kredit di industri hingga kenaikan biaya Dana Pihak Ketiga (DPK).
“Pelemahan NIM tersebut diimbangi oleh pertumbuhan kredit yang kuat sehingga laba inti atau PPOP sudah tumbuh 14,5 persen secara yoy di semester I 2026,” jelasnya.
Memasuki semester II 2026, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) memproyeksikan impairment atau penurunan nilai aset masih akan bergerak dinamis. Kondisi tersebut membuat permodalan dan likuiditas menjadi fokus utama perseroan.
Untuk itu, Paolo menyampaikan sejumlah strategi yang akan ditempuh BNI pada semester II 2026. Salah satunya dengan menjaga pertumbuhan Current Account Saving Account (CASA) atau dana murah melalui optimalisasi platform digital.
“Tadi yang kami sampaikan (platform digital) baik itu Wonder maupun BNI Direct untuk tetap menjaga cost of fund,” tambahnya.
Baca juga: Begini Prospek Saham BBCA, BMRI, BBRI, dan BBNI di Semester II 2026
Adapun, cost of fund BNI pada semester I 2026 tercatat sekitar 2,6 persen. Angka tersebut membaik dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 2,8 persen.
Selanjutnya, BNI akan menyalurkan kredit secara selektif dengan tetap mengedepankan prinsip prudential atau kehati-hatian, serta mempertimbangkan kondisi likuiditas. Perseroan juga akan menjaga disiplin pricing kredit guna mempertahankan margin. (*)
Editor: Galih Pratama


