Poin Penting
- BI telah memfasilitasi business matching pembiayaan UMKM senilai Rp285 miliar hingga Juli 2026
- Delapan lembaga keuangan menandatangani pembiayaan dengan UMKM mitra dalam Gebyar Pembiayaan KKI 2026
- BI memperkuat ekosistem pembiayaan UMKM dari sisi supply dan demand, melalui KLM, RPIM, digitalisasi QRIS, peningkatan kapasitas usaha, serta perluasan akses pasar.
Jakarta – Bank Indonesia (BI) telah memfasilitasi business matching pembiayaan hingga Rp285 miliar sampai Juli 2026. Nilai tersebut terdiri atas pembiayaan inklusif sebesar Rp150 miliar dan pembiayaan berkelanjutan Rp135 miliar.
Capaian tersebut diproyeksikan terus bertambah hingga akhir 2026, salah satunya melalui penandatanganan pembiayaan delapan lembaga keuangan dengan UMKM mitra pada Jumat (21/8).
Dari delapan lembaga keuangan tersebut, empat di antaranya menyalurkan pembiayaan inklusif dan empat lainnya pembiayaan berkelanjutan.
Penandatanganan dilakukan oleh perwakilan BRI, BCA, BSI, Mandiri, SMBC, Panin Bank, OCBC, dan BNI dengan masing-masing UMKM mitra.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Gebyar Pembiayaan yang diselenggarakan BI dalam rangkaian Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026.
Baca juga: Dorong Kredit UMKM, BI Berikan Insentif Ini ke Perbankan
Penandatanganan disaksikan Deputi Gubernur Bank Indonesia Aida S. Budiman dan Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah Maman Abdurrahman.
Aida menilai tantangan pembiayaan UMKM saat ini tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan dana, tetapi juga kesiapan usaha, persepsi risiko, serta kemampuan mempertemukan UMKM dengan lembaga keuangan.
Untuk itu, BI memperkuat pengembangan UMKM dari hulu hingga hilir melalui peningkatan kapasitas usaha, penguatan rekam jejak keuangan, peningkatan visibilitas UMKM, serta perluasan akses pasar.
BI kemudian mempertemukan UMKM dengan lembaga pembiayaan untuk membuka akses pembiayaan. Sinergi antar pemangku kepentingan dinilai menjadi kunci agar semakin banyak UMKM mendapatkan pembiayaan, berkembang, dan naik kelas.
“BI berperan sebagai katalis dalam memperkuat pembiayaan UMKM dari sisi supply dan demand,” ucap Aida dalam keterangan resmi dikutip, 23 Agustus 2026.
Baca juga: BI Soroti Kredit UMKM: Hanya Tumbuh 1,62 Persen, NPL Tembus 5,6 Persen
Dari sisi supply, Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) memberikan insentif likuiditas kepada perbankan yang menyalurkan pembiayaan kepada UMKM. Sementara itu, Rasio Pembiayaan Inklusif Makroprudensial (RPIM) mendorong perluasan pembiayaan inklusif.
Dari sisi demand, digitalisasi pembayaran melalui QRIS turut membangun rekam jejak usaha UMKM sehingga dapat mendukung akses pembiayaan.
“Penguatan ekosistem pembiayaan UMKM ke depan memerlukan komitmen yang konsisten, inovasi yang adaptif, serta sinergi yang semakin erat antara Bank Indonesia, Pemerintah, sektor keuangan, dan pemangku kepentingan lainnya,” tutupnya. (*)
Editor: Galih Pratama


