Poin Penting
- BI mendorong transformasi pembiayaan dari sekadar mengejar pertumbuhan kredit menjadi pembiayaan yang berkualitas, produktif, dan berbasis ekosistem.
- BI memperkuat kebijakan pembiayaan sektor prioritas melalui KLM dan RPIM serta mendorong digitalisasi melalui QRIS, BI-FAST, dan SNAP.
- Kredit perbankan Juni 2026 tumbuh 12,67 persen secara tahunan, meningkat dari 11,51 persen pada bulan sebelumnya.
Jakarta – Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti mengatakan pembiayaan berperan strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi. Penyaluran kredit ke dunia usaha dapat meningkatkan produktivitas, penciptaan lapangan kerja, dan memperkuat daya saing.
Destry menjelaskan, untuk memastikan pembiayaan memberikan manfaat yang lebih besar bagi perekonomian, diperlukan transformasi dari sekadar mengejar pertumbuhan kredit menuju pembiayaan yang berkualitas. Selain itu, pembiayaan individual perlu diarahkan menjadi pembiayaan berbasis ekosistem dan berbagai program yang berjalan sendiri-sendiri diubah menjadi orkestrasi nasional melalui sinergi antarpemangku kepentingan.
“Kebijakan yang baik tidak berhenti pada keputusan di tingkat otoritas ataupun tersedianya dana di dalam sistem keuangan. Dampak kebijakan harus dapat dirasakan manfaatnya oleh pelaku usaha, mulai dari perusahaan besar hingga pedagang, petani, pengrajin, dan wirausaha muda di berbagai daerah,” ujar Destry dalam Economic Briefing 2026, Jumat, 24 Juli 2026.
Baca juga: Bank Sentral Asia Pasifik Kompak Perkuat Tata Kelola Adopsi AI
Destry menyampaikan, penguatan pembiayaan UMKM menjadi salah satu bagian penting dalam memperkuat sektor produktif dan mendorong transformasi ekonomi nasional.
Sejalan dengan itu, BI terus memperkuat bauran kebijakan untuk mendorong pembiayaan sektor-sektor prioritas melalui Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) dan Rasio Pembiayaan Inklusif Makroprudensial (RPIM).
Dari sisi sistem pembayaran, BI juga terus memperkuat digitalisasi melalui QRIS, BI-FAST, dan SNAP untuk memperluas integrasi pelaku usaha ke dalam ekosistem keuangan digital.
“Berbagai bauran kebijakan tersebut saling melengkapi dalam mendukung pembiayaan yang lebih inklusif, produktif, dan berdampak bagi perekonomian,” tambahnya.
OJK Dorong Ekosistem Pembiayaan UMKM
Kepala Departemen Pengaturan dan Pengembangan UMKM dan Keuangan Syariah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Ayahandayani K. menyampaikan, penguatan akses pembiayaan yang inklusif merupakan salah satu prasyarat untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing UMKM.
“Untuk itu, OJK terus memperkuat berbagai kebijakan dan program melalui pengembangan ekosistem pembiayaan yang terintegrasi, peningkatan literasi dan inklusi keuangan, penguatan kapasitas pelaku UMKM, serta penguatan pelindungan konsumen,” ucap Ayahandayani.
Sementara itu, Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai, di tengah pertumbuhan kredit yang menunjukkan tren positif dan didukung akselerasi digitalisasi UMKM, masih terdapat ruang untuk memperluas pembiayaan ke sektor-sektor dengan nilai tambah lebih tinggi, khususnya industri pengolahan.
“Kredit UMKM diharapkan dapat terus didorong melalui sinergi implementasi POJK Kredit UMKM, insentif likuiditas kebijakan Bank Indonesia, serta program prioritas Pemerintah yang disesuaikan dengan kebutuhan pasar oleh perbankan. Terjaganya stabilitas indikator perbankan sehingga turut mendukung pembiayaan produktif UMKM, khususnya modal kerja, menjadi prasyarat pertumbuhan inklusif ke depan,” imbuh Josua.
Baca juga: BI Naikkan Insentif Likuiditas Makroprudensial Jadi 6 Persen, Tapi Ada Syaratnya
Adapun pertumbuhan kredit pada Juni 2026 mencapai 12,67 persen (yoy), meningkat dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 11,51 persen (yoy). Perkembangan ini menunjukkan semakin kuatnya dukungan sektor keuangan terhadap aktivitas ekonomi serta menjadi modal penting untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi ke depan.
Dari sisi penawaran, minat penyaluran kredit (lending appetite) juga masih longgar serta didukung pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) yang tinggi yaitu mencapai 10,21 persen (yoy). (*)
Editor: Yulian Saputra


