BGN Tegaskan Siswa MIN 2 Bengkulu Utara Meninggal Bukan karena MBG

BGN Tegaskan Siswa MIN 2 Bengkulu Utara Meninggal Bukan karena MBG

Poin Penting

  • Badan Gizi Nasional (BGN) menegaskan kematian siswa MIN 2 Bengkulu Utara tidak terkait Program Makan Bergizi Gratis (MBG) karena korban belum mengonsumsi makanan tersebut saat pingsan.
  • Hasil CT Scan di RS Bhayangkara menunjukkan adanya pendarahan otak, dan korban meninggal sekitar 12 jam setelah operasi di RS Tiara Sella.
  • Uji laboratorium Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyatakan sampel makanan MBG negatif zat berbahaya, dan dari 1.800 penerima manfaat hanya satu kasus dilaporkan.

Jakarta – Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi, Nanik Sudaryati Deyang, menegaskan bahwa meninggalnya siswa MIN 2 Bengkulu Utara bernama Fatih tidak berkaitan dengan konsumsi menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Nanik menyatakan informasi yang mengaitkan kematian korban dengan dugaan keracunan makanan MBG dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Giri Kencana tidak sesuai dengan fakta di lapangan.

“Fatih belum memakan menu MBG dari SPPG Giri Kencana ketika diketahui pingsan sebelum dibawa ke rumah sakit,” ujar Nanik dalam keterangannya, Rabu, 4 Maret 2026.

Hasil Pemeriksaan Medis

Menurut Nanik, hasil pemeriksaan medis menunjukkan adanya pendarahan otak. Temuan tersebut diketahui setelah dilakukan CT Scan di RS Bhayangkara.

Baca juga: Mendikdasmen Ajukan ABT Rp181 T, Pastikan Tak Diambil untuk MBG

Kondisi itu membuat Fatih harus dirujuk ke RS Tiara Sella yang memiliki fasilitas dan peralatan untuk melakukan operasi bedah saraf.

Sebelumnya, Fatih sempat mendapatkan penanganan awal di RS Lagita Ketahun. Namun, rumah sakit tersebut hanya memberikan tindakan kegawatdaruratan karena kondisi kesadaran korban sudah menurun dengan nilai Glasgow Coma Scale (GCS) 6, yang mengindikasikan cedera otak berat dan mengancam jiwa.

Setelah sejumlah rumah sakit di Bengkulu hingga Padang dihubungi dan fasilitas Pediatric Intensive Care Unit (PICU) dilaporkan penuh, korban akhirnya dirujuk ke RS Bhayangkara. Hasil CT Scan di rumah sakit tersebut mengonfirmasi adanya pendarahan otak.

Fatih kemudian dirujuk ke RS Tiara Sella untuk menjalani operasi bedah saraf. Ia meninggal dunia sekitar 12 jam setelah operasi dilakukan.

Hasil Uji BPOM

Nanik juga menyampaikan hasil uji laboratorium yang dilakukan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) terhadap sampel makanan MBG.

Baca juga: Kredit UMKM Diprediksi Tumbuh Maksimal 5 Persen, Program MBG Bisa jadi Penopang

“Hasil uji BPOM menunjukkan seluruh sampel negatif, tidak ada bakteri E. coli, boraks, formalin, nitrit, arsen, sianida, ataupun temuan lain yang mengarah pada keracunan pangan,” katanya.

Dari sekitar 1.800 penerima manfaat MBG pada hari tersebut, lanjut Nanik, hanya Fatih yang mengalami gangguan kesehatan.

“Dari 1.800 penerima manfaat, tidak ada laporan kejadian serupa. Hanya satu kasus ini, dan secara medis ditemukan adanya pendarahan otak,” tandasnya.

BGN menyampaikan dukacita mendalam atas wafatnya Fatih. BGN juga mengimbau masyarakat untuk tidak berspekulasi dan menunggu informasi resmi berdasarkan hasil pemeriksaan medis serta uji laboratorium yang dapat dipertanggungjawabkan. (*)

Editor: Yulian Saputra

Related Posts

News Update

Netizen +62