Poin Penting
- Bank INA tetap agresif menyalurkan kredit di tengah tantangan ekonomi dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam ekspansi pembiayaan
- Perseroan fokus mendorong KPR dan memanfaatkan ekosistem Salim Group untuk memperluas kredit UKM dan kredit modal kerja
- Hingga kuartal I 2026, kredit Bank INA tumbuh 10,35 persen yoy menjadi Rp14,78 triliun, ditopang kredit produktif dan konsumtif.
Jakarta – PT Bank INA Perdana Tbk (BINA) membeberkan strategi penyaluran kredit di tengah kondisi ekonomi yang dinilai masih penuh tantangan. Perseroan menegaskan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam ekspansi pembiayaan.
Wakil Direktur Utama Bank INA, Yulius Purnama Junaedi mengatakan, perseroan tetap optimistis terhadap pertumbuhan bisnis, namun ekspansi kredit dilakukan secara selektif.
“Kami dalam posisi optimis, tapi juga harus berhati-hati. Karena, kami juga sebagai bank, harus tetap (mengikuti) prinsip kami yang adalah memberikan kredit dengan hati-hati,” ungkap Yulius dalam public expose Bank INA, Rabu, 13 Mei 2026.
Baca juga: Laba Bank INA Terbang 268,73 Persen jadi Rp52,97 Miliar di Kuartal I 2026
Salah satu strategi yang ditempuh perseroan ialah memperkuat penyaluran kredit pemilikan rumah (KPR). Menurut Yulius, pertumbuhan ekonomi triwulan I-2026 sebesar 5,61 persen yang ditopang konsumsi rumah tangga membuat sektor tersebut masih prospektif.
Bank INA sendiri telah menyalurkan KPR dalam beberapa tahun terakhir. Segmen ini disebut memberi kontribusi cukup besar terhadap pertumbuhan kredit perseroan.
Selain itu, Bank INA juga memanfaatkan ekosistem Salim Group untuk memperluas basis pembiayaan, khususnya di segmen usaha kecil dan menengah (UKM).
“Yang kedua adalah kita coba manfaatkan ekosistem Salim Group, khususnya adalah bagaimana kita bisa masuk ke segmen-segmen mereka. Seperti misalnya kita ada kerja sama dengan Indogrosir untuk masuk ke member mereka,” lanjut Yulius.
Ia menjelaskan, penyaluran kredit di ekosistem Salim Group mayoritas masuk dalam kategori kredit modal kerja (KMK) bagi pelaku UKM. Sementara untuk kredit investasi (KI), perseroan melihat adanya peluang dari potensi relokasi dan rebalancing usaha asing akibat kebijakan tarif Amerika Serikat (AS).
Menurutnya, Indonesia memiliki daya saing dari sisi tarif yang relatif lebih rendah dibanding sejumlah negara lain, sehingga berpotensi menarik investasi baru.
Baca juga: Honest dan Bank INA Rilis Tabungan Baru, Terhubung Langsung dengan Kartu Kredit
“Jadi yang kredit investasi, kita tinggal memilih sebetulnya industri-industri yang memang masih akan maju ke depannya. Dan juga kita ngeliat bahwa Indonesia punya competitive advantage dibandingkan dengan negara lain,” bebernya.
Adapun hingga kuartal I 2026, Bank INA mencatat pertumbuhan kredit sebesar 10,35 persen secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp14,78 triliun.
Secara rinci, kredit produktif yang terdiri dari kredit investasi dan kredit modal kerja mendominasi portofolio dengan total Rp13,18 triliun per Maret 2026, atau tumbuh 4,79 persen yoy.
Sementara itu, kredit konsumtif tercatat mencapai Rp1,59 triliun, melonjak 15,52 persen secara tahunan. (*) Mohammad Adrianto Sukarso


