Poin Penting
- Iran mengajukan lima syarat sebagai “jaminan minimum” sebelum bersedia kembali berunding dengan AS.
- Lima tuntutan mencakup penghentian perang, pencabutan sanksi, pencairan aset, kompensasi kerusakan, dan pengakuan kedaulatan di Selat Hormuz.
- Iran menegaskan negosiasi tidak dapat dimulai tanpa pemenuhan konkret atas seluruh syarat tersebut.
Jakarta – Iran menegaskan kesiapan untuk kembali ke meja perundingan dengan Amerika Serikat (AS), namun dengan satu catatan penting: lima syarat yang diajukan harus dipenuhi terlebih dahulu. Pernyataan tersebut disampaikan di tengah dinamika gencatan senjata dan proses diplomasi yang masih berjalan, sebagaimana dilaporkan Kantor Berita Fars pada Selasa (12/5).
Dalam laporan itu disebutkan bahwa kelima tuntutan tersebut merupakan “jaminan minimum” yang wajib dipenuhi agar negosiasi baru dapat dilangsungkan. Tanpa pemenuhan syarat tersebut, Iran menyatakan tidak akan berpartisipasi dalam putaran kedua perundingan dengan Washington.
Menurut sumber yang dikutip Fars, sikap ini muncul untuk memulihkan kepercayaan yang sempat terkikis dalam hubungan dengan AS. Teheran menilai langkah konkret harus dilakukan terlebih dahulu sebelum dialog dapat dimulai kembali.
Baca juga: AS Gelontorkan Rp507 Triliun untuk Operasi Militer di Iran, Biaya Terus Membengkak
Iran Ajukan Lima Syarat untuk Negosiasi dengan AS
Dalam konteks diplomasi, Iran menyampaikan lima tuntutan utama sebagai dasar pembicaraan lanjutan dengan AS. Kelima syarat itu meliputi penghentian perang di seluruh garda, khususnya Lebanon; pencabutan sanksi; pencairan aset Iran yang dibekukan; kompensasi atas kerusakan perang; serta pengakuan atas hak kedaulatan Iran di Selat Hormuz.
Selain itu, Iran juga telah menyampaikan kepada Pakistan sebagai mediator bahwa keberlanjutan blokade laut AS di Laut Arab dan Teluk Oman setelah gencatan senjata semakin meningkatkan ketidakpercayaan untuk memulai kembali perundingan. Menurut sumber tersebut, tuntutan ini diajukan semata-mata untuk membangun kembali kepercayaan sebelum pembicaraan dilanjutkan.
Fars menambahkan, lima syarat tersebut merupakan respons atas 14 poin usulan dari pihak Amerika. Usulan AS dinilai terlalu berat sebelah dan dianggap sebagai upaya mengamankan tujuan yang gagal dicapai melalui jalur militer.
Iran dan Dinamika Gencatan Senjata
Perkembangan ini tidak terlepas dari eskalasi sebelumnya. Amerika dan Israel melancarkan serangan gabungan ke Iran pada 28 Februari, yang kemudian memicu serangan balasan dari Teheran terhadap Israel serta sekutu-sekutu AS di kawasan Teluk Persia, termasuk hingga blokade Selat Hormuz.
Gencatan senjata akhirnya tercapai pada 8 April melalui mediasi Pakistan. Namun, proses negosiasi lanjutan yang berlangsung di Islamabad tidak menghasilkan kesepakatan jangka panjang. Gencatan senjata tersebut kemudian diperpanjang oleh Presiden AS Donald Trump tanpa batas waktu yang ditentukan.
Baca juga: Iran Mau Berunding dengan AS jika 5 Syarat Ini Dipenuhi
Pada Minggu (10/5), Iran menyampaikan respons resmi kepada Pakistan terkait proposal AS untuk mengakhiri perang. Presiden AS Donald Trump menyebut tanggapan itu sebagai sesuatu yang “benar-benar tak dapat diterima”.
Iran Tegaskan Syarat sebagai Dasar Kepercayaan
Dalam sikap terakhirnya, Iran menekankan bahwa kelima syarat tersebut bukan sekadar tuntutan politik, melainkan fondasi untuk membangun kembali kepercayaan sebelum negosiasi dimulai. Teheran meyakini pembicaraan tidak dapat berjalan tanpa adanya pemenuhan nyata atas poin-poin yang telah diajukan.
Iran menegaskan kembali bahwa kelima syarat tersebut menjadi dasar utama untuk membuka kembali ruang dialog dengan AS, di tengah upaya diplomasi yang masih berlangsung dan situasi kawasan yang belum sepenuhnya stabil. (*)
Editor: Yulian Saputra


