Begini Cara Menata Ulang Keuangan Pasca Lebaran

Begini Cara Menata Ulang Keuangan Pasca Lebaran

Poin Penting

  • PT Asuransi Jiwa Sequis Life mendorong masyarakat melakukan “reset finansial” pasca-Lebaran untuk memulihkan kondisi keuangan setelah periode konsumtif
  • Ketahanan finansial ditentukan oleh disiplin mengelola arus kas, mengendalikan utang, serta menyiapkan dana darurat, bukan hanya besarnya penghasilan
  • Asuransi jiwa dan kesehatan dinilai penting sebagai proteksi guna menjaga stabilitas keuangan keluarga dari risiko tak terduga.

Jakarta – PT Asuransi Jiwa Sequis Life mendorong masyarakat memanfaatkan momen pasca-Lebaran untuk melakukan reset finansial dan gaya hidup, setelah periode konsumtif selama Ramadan dan libur Idulfitri.

Langkah ini dinilai krusial untuk mengembalikan keseimbangan keuangan sekaligus memperkuat ketahanan finansial jangka panjang.

Faculty Head Sequis Quality Empowerment (STAE) Sequis Life, Yan Ardhianto Handoyo, menekankan bahwa ketahanan finansial tidak semata ditentukan oleh besarnya penghasilan. Melainkan oleh disiplin dalam mengelola arus kas, menyiapkan dana darurat, serta mengendalikan utang.

“Pasca Lebaran merupakan momen yang tepat untuk melakukan reset finansial. Langkah sederhana yang dapat dilakukan antara lain disiplin mengelola arus kas, mengendalikan utang, menyiapkan dana darurat, serta lengkapi dengan proteksi guna menjaga kondisi keuangan dari risiko tidak terduga,” ujar Yan dalam keterangan tertulis, dikutip Kamis (2/4).

Baca juga: 9 Tips Membangun Kepercayaan Pelanggan dalam Strategi Pemasaran Bisnis

Ia menjelaskan, tekanan keuangan pasca Lebaran kerap meningkat akibat akumulasi pengeluaran, mulai dari biaya mudik, konsumsi, hingga pemberian hadiah. Jika tidak segera diantisipasi, kondisi ini berpotensi berkembang menjadi risiko finansial jangka panjang.

Karena itu, masyarakat perlu segera menata ulang pos keuangan, terutama yang terdampak pengeluaran konsumtif.

Salah satu pendekatan yang dapat diterapkan adalah pengelolaan anggaran dengan komposisi ideal, yakni 50-60 persen untuk kebutuhan rutin, 10-20 persen untuk tabungan dan dana darurat, serta dilengkapi dengan proteksi.

Yan juga menegaskan pentingnya peran asuransi dalam menjaga stabilitas keuangan keluarga di tengah ketidakpastian.

Menurutnya, proteksi bukan sekadar beban biaya, melainkan bagian dari strategi finansial yang terintegrasi.

Baca juga: Dear Gen Z dan Milenial, Simak Tips Jitu Menyiapkan Dana Pensiun

“Asuransi jiwa dan kesehatan merupakan bagian penting dalam membangun ketahanan finansial keluarga. Asuransi bukan sekadar biaya, melainkan instrumen perlindungan untuk meminimalkan dampak finansial dari risiko yang tidak terduga,” imbuhnya.

Lebih lanjut, ia mengingatkan masyarakat untuk tetap prudent atau bijaksana dalam mengambil keputusan keuangan, serta adaptif terhadap dinamika ekonomi global yang masih berfluktuasi.(*) Alfi Salima Puteri

Related Posts

News Update

Netizen +62