Banking and Finance Outlook 2023: Berjalan di Bara Inflasi, Bank Masih Akan Aman?

Banking and Finance Outlook 2023: Berjalan di Bara Inflasi, Bank Masih Akan Aman?

Kredit
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on email
Share on linkedin

Oleh Karnoto Mohamad, Wakil Pemimpin Redaksi Infobank

LAPORAN bertajuk Is a Global Recession Iminent yang dirilis World Bank menyebutkan bahwa dunia berisiko jatuh ke jurang resesi global pada 2023. Pada 2022, banyak negara sudah mengalami stagflasi. Jika perang Rusia versus Ukraina yang menekan ekonomi dunia terus berlanjut, maka sejumlah negara yang sudah dihajar oleh hiperinflasi akan berada di posisi yang membahayakan seperti Sudan, Zimbagwe, Venezuela, Turki, Lebanon, dan Argentina. Ekonomi Amerika Serikat (AS) pun sudah gelap dan tiga dari lima orang warganya sudah mengatakan adanya resesi. Jika AS terperosok ke dalam resesi maka Asia tidak akan lolos dari dampaknya, termasuk Asia Tenggara.

Inflasi boleh menyala-nyala. Proyeksi gelap ekonomi global boleh didengung-dengungkan. Tapi ekonomi Indonesia tahun ini diprediksi masih akan tumbuh di kisaran 5%, berkat windfall atau durian runtuh yang membuat kinerja ekspor terbang. Hanya, karena ancaman pelemahan daya beli masyarakat akibat kenaikan BBM bersubsidi, pertumbuhan ekonomi sedikit melambat dari pencapaian per Juni 2022.

Industri perbankan masih akan menutup kalender 2022 dengan kinerja yang cukup gemilang. Sejalan dengan meningkatnya permintaan kredit, pendapatan bunga akhirnya tumbuh positif setelah dua tahun berturut-turut mengalami penurunan. Ditambah dengan penurunan beban bunga plus celengan cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) yang sebagian sudah diunduh, laba industri perbankan sepanjang tahun 2022 akan terbang tinggi. Data Biro Riset Infobank mencatat laba perbankan per Juni meningkat 43.76% yang disokong oleh 79 bank.

Non performing loan (NPL) maupun kredit berkualitas rendah pun menunjukkan tren menurun. NPL menurun dari 3,24% per Juni 2021 menjadi 2,85 per Juni 2022. Penurunan juga terjadi pada loan at risk (LAR) dari 22,12% menjadi 16,23%. LAR paling tinggi dicatat kelompok bank berdasarkan modal inti (KBMI) 4 sebesar 18,05%, KBMI 3 sebesar 15,77%, KBMI 2 sebesar 11,35%, KBMI 1 sebesar 15,81%, dan bank asing sebesar 4,46%.

Biro Riset Infobank dalam kajian bertajuk Banking and Finance Outlook 2023, sampai akhir tahun 2022 industri perbankan diprediksi akan mencatatkan pertumbuhan kredit di kisaran 8% sampai 10%. Sebab, realisasi pertumbuhan kredit semester satu yang mencapai 10,66%, akan sedikit tertahan oleh laju inflasi dan kenaikan suku bunga acuan. Sementara pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) juga di kisaran 8% sampai 10%. Sedangkan pertumbuhan laba tidak akan setinggi pertumbuhan yang dicatat pada semester satu karena bank-bank harus memperkuat kembali kuda-kuda dan pencadangannya untuk mengantisipasi kondisi tidak pasti pada 2023.

Tahun depan, ada dua tantangan utama yang harus dihadapi perbankan. Satu, dari sisi liabilitas perbankan akan menghadapi risiko peningkatan biaya dana (cost of fund) akibat gelombang pengetatan moneter oleh negara-negara di dunia untuk memerangi gempuran inflasi. Sampai medio tahun ini, industri perbankan masih menikmati panen dana murah. Beban bunga dibandingkan DPK mengalami tren menurun dari 4,66% pada 2019, 3,42% pada 2020, 1,99% pada 2021, dan 1,00% pada Juni 2022. Setelah BI menaikkan suku bunga acuan dari posisi 3,50% menjadi 3,75% pada Agustus lalu menjadi 4,25% pada September lalu dan diperkirakan akan menaikkan kembali pada kuartal keempat 2022 hingga tahun mendatang, maka likuiditas di pasar akan menjadi ketat.

Dua, dari sisi aset perbankan berisiko mengalami peningkatan NPL karena relaksasi kebijakan restrukturisasi kredit yang terdampak pandemi COVID-19 akan berakhir pada Maret 2023. Jika Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tidak memperpanjang beleid tersebut, maka NPL perbankan yang sudah menurun di bawah 3% berisiko kembali meningkat di atas 4%. Asumsinya adalah kredit pada 2022 tumbuh 10% menjadi Rp6.403 triliun dengan NPL yang melandai di level 2,85%, ditambah 32% dari Rp835 triliun kredit yang direstrukturisasi memiliki kategori non-lancar kemudian jatuh menjadi kredit macet, maka NPL akan menembus di kisaran 6% sampai 7%.

Lalu berapa proyeksi kinerja pertumbuhan perbankan dan sektor keuangan lainnya pada 2023 di tengah ancaman stagflasi bahkan resesi global? Seperti apa proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun depan di tengah gelombang pengetatan moneter di negara-negara maju untuk memerangi inflasi, termasuk Bank Indonesia yang diperkirakan masih akan menaikkan suku bunga acuannya pada kuartal keempat 2022 dan tahun depan? Bagaimana kualitas kredit restrukturisasi di 107 bank umum saat ini? Baca selengkapnya di Majalah Infobank Nomor 534 Oktober 2022.

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Berita Pilihan

Segera Daftarkan Diri Anda Menjadi Kontributor di

Silahkan isi Form di bawah ini

[ultimatemember form_id=”1287″]