Poin Penting
- Bank Sentral Eropa menaikkan suku bunga acuan 25 bps menjadi 2,25 persen untuk merespons tekanan inflasi akibat eskalasi perang Iran–AS
- ECB merevisi naik proyeksi inflasi zona euro menjadi 3 persen pada 2026, namun menurunkan outlook pertumbuhan ekonomi menjadi 0,8 persen pada 2026 akibat dampak krisis energi
- Presiden ECB Christine Lagarde menegaskan ketidakpastian masih tinggi dengan risiko inflasi naik dan pertumbuhan melemah, tanpa komitmen jalur suku bunga ke depan.
Jakarta – European Central Bank (ECB) atau Bank Sentral Eropa resmi menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin menjadi 2,25 persen dalam keputusan rapat Dewan Gubernur pada Kamis waktu setempat.
Kenaikan suku bunga acuan untuk pertama kalinya dalam hampir tiga tahun terakhir ini, diambil di tengah meningkatnya tekanan inflasi akibat eskalasi perang Iran–Amerika Serikat (AS) yang mengguncang pasar energi global.
Dalam pernyataannya dikutip CNBC, 12 Juni 2026, Dewan Gubernur ECB menegaskan bahwa konflik geopolitik di Timur Tengah telah memicu lonjakan tekanan inflasi, terutama melalui kenaikan harga energi.
“Perang di Timur Tengah menghasilkan tekanan inflasi, dan keputusan kenaikan suku bunga ini kuat di berbagai skenario yang memetakan bagaimana guncangan tersebut dapat berkembang,” tulis ECB dalam keterangan resminya.
Baca juga: Menebak Arah Kenaikan Suku Bunga Acuan BI
Proyeksi Inflasi Naik, Ekonomi Ditekan
ECB juga merevisi naik proyeksi inflasi kawasan euro. Inflasi utama diperkirakan mencapai rata-rata 3 persen pada 2026, sebelum turun menjadi 2,3 persen pada 2027 dan kembali ke target 2 persen pada 2028.
Kenaikan ini dipicu oleh ekspektasi harga energi yang lebih tinggi, yang kemudian berdampak pada biaya makanan, barang, dan jasa di kawasan euro.
Sementara itu, proyeksi pertumbuhan ekonomi justru dipangkas. ECB memperkirakan pertumbuhan zona euro hanya mencapai 0,8 persen pada 2026, 1,2 persen pada 2027, dan 1,5 persen pada 2028, mencerminkan pelemahan daya beli dan tekanan sentimen akibat perang.
Ketidakpastian Masih Tinggi
Presiden ECB Christine Lagarde menegaskan bahwa prospek ekonomi masih dibayangi ketidakpastian tinggi, dengan risiko inflasi cenderung meningkat dan risiko pertumbuhan tetap melemah.
“Outlook masih tidak pasti, dengan risiko kenaikan inflasi dan risiko penurunan pertumbuhan ekonomi. Kami tidak berkomitmen pada jalur suku bunga tertentu,” ujar Lagarde.
Ia menambahkan bahwa dampak perang terhadap inflasi jangka menengah akan sangat bergantung pada intensitas dan durasi guncangan harga energi serta efek lanjutan ke ekonomi riil.
Baca juga: Pasca BI Rate Naik: Asing Kembali Masuk RI, Rupiah Bergairah Lagi
Shock Energi Global Tekan Eurozone
Perang Iran yang telah melewati 100 hari menyebabkan gangguan besar di pasar energi global, termasuk penutupan jalur strategis Selat Hormuz dan terganggunya produksi energi di Timur Tengah.
Kondisi tersebut mendorong lonjakan harga energi dunia, yang kemudian menekan inflasi kawasan euro hingga 3,2 persen pada Mei 2026, jauh di atas target ECB sebesar 2 persen.
Di sisi lain, ekonomi zona euro hanya tumbuh 0,1 persen pada kuartal I-2026, menunjukkan lemahnya momentum pemulihan.
Pasar Merespons Hati-hati
Pelaku pasar menilai langkah ECB sebagai sinyal penting bahwa tekanan inflasi masih menjadi fokus utama kebijakan moneter. Namun, ruang kenaikan suku bunga lanjutan dinilai terbatas karena risiko perlambatan ekonomi yang semakin besar.
Analis memperkirakan ECB masih membuka peluang satu kali kenaikan tambahan, tergantung pada perkembangan data inflasi dan dinamika geopolitik global. (*)

