Poin Penting
- Bank Mandiri menilai ketidakpastian ekonomi global masih tinggi memasuki semester II 2026.
- Konflik geopolitik di Timur Tengah kembali meningkatkan volatilitas harga energi dan pasar keuangan global.
- Ekonomi Indonesia tetap tumbuh 5,29 persen pada kuartal II 2026, dengan pertumbuhan semester I mencapai 5,45 persen.
Jakarta – Bank Mandiri menilai perekonomian global masih menghadapi ketidakpastian yang cukup tinggi memasuki semester II 2026. Kondisi tersebut terutama dipengaruhi konflik geopolitik di Timur Tengah yang kembali meningkatkan volatilitas harga energi dan pasar keuangan global.
Direktur Treasury & International Banking Bank Mandiri, Ari Rizaldi, mengatakan pada akhir Agustus 2026 harga minyak Brent kembali bergerak di sekitar USD90 per barel. Sementara itu, imbal hasil atau yield US Treasury tenor 10 tahun berada di kisaran 4,7 persen.
“Akibatnya, tentu saja tekanan inflasi masih membayangi perkembangan ekonomi global tahun ini,” kata Ari dalam Mandiri Macro and Market Brief Kuartal III 2026, Kamis, 3 September 2026.
Baca juga: Bank Mandiri Proyeksikan BI Rate Tetap 5,75 Persen hingga Akhir 2026
Kondisi tersebut juga mendorong kembali menguatnya ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga acuan The Federal Reserve atau Fed Fund Rate (FFR). Karena itu, volatilitas pasar keuangan global diperkirakan masih menjadi tantangan ke depan.
Ekonomi Indonesia Tetap Tumbuh
Di tengah tekanan global, perekonomian Indonesia dinilai masih menunjukkan ketahanan. Pada kuartal II 2026, ekonomi Indonesia tumbuh 5,29 persen secara tahunan (yoy).
Secara kumulatif, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada semester I 2026 mencapai 5,45 persen.
Dari sisi harga, inflasi juga masih berada dalam kisaran sasaran Bank Indonesia. Inflasi Agustus 2026 tercatat 3,19 persen secara tahunan, masih berada dalam target BI sebesar 1,5-3,5 persen.
Kondisi tersebut dinilai memberikan fondasi positif bagi daya beli masyarakat sekaligus menjaga stabilitas perekonomian.
Baca juga: Bank Mandiri Naikkan Proyeksi Ekonomi RI 2026 Jadi 5,34 Persen
NPI Defisit, Transaksi Finansial Surplus
Dari sisi eksternal, kata Ari, dinamika global masih memberikan tantangan bagi perekonomian Indonesia. Namun, terdapat sejumlah perkembangan yang dinilai konstruktif.
Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada kuartal II 2026 mencatat defisit sekitar USD0,9 miliar, jauh lebih rendah dibandingkan defisit USD9,1 miliar pada kuartal sebelumnya.
Sementara itu, transaksi berjalan mengalami pelebaran defisit yang dipengaruhi peningkatan impor migas akibat tingginya harga energi. Impor nonmigas juga meningkat untuk mendukung aktivitas ekonomi domestik.
“Namun, kalau kita lihat perkembangan tersebut diimbangi oleh surplus transaksi modal dan finansial sebesar USD12 miliar yang didukung oleh masuknya investasi langsung maupun investasi portofolio,” pungkasnya.
Baca juga: Ekonomi RI Tertinggal dari Vietnam, Bos BI: Inflasi Kita Lebih Manageable
Di sisi lain, nilai tukar rupiah mulai menunjukkan perbaikan setelah sebelumnya mengalami tekanan. Pada akhir Agustus 2026, rupiah menguat 1,56 persen dibandingkan posisi bulan sebelumnya.
Perkembangan tersebut turut menjadi salah satu pertimbangan Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan BI Rate di level 5,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Agustus 2026.
Perbankan Masih Tumbuh Kuat
Ari menilai, di tengah berbagai dinamika tersebut, industri perbankan Indonesia masih memiliki fundamental yang kuat.
Pertumbuhan kredit perbankan pada Juli 2026 mencapai 13,58 persen secara tahunan, melanjutkan akselerasi dari 12,67 persen pada Juni 2026.
Dari sisi pendanaan, Dana Pihak Ketiga (DPK) pada Juni 2026 tumbuh sekitar 10,21 persen secara tahunan. Pertumbuhan kredit yang lebih cepat dibandingkan DPK turut mendorong kenaikan rasio kredit terhadap dana pihak ketiga atau loan to deposit ratio (LDR) industri menjadi sekitar 88 persen.
Baca juga: Likuiditas Masih Jadi Tantangan, Bank Mandiri Ungkap Kondisinya
Di tengah kondisi tersebut, Bank Mandiri tetap menjaga pertumbuhan bisnis dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian.
Pada kuartal II 2026, penyaluran kredit Bank Mandiri bank only tercatat Rp1.592 triliun per Juni 2026, tumbuh 19,9 persen secara tahunan. Pertumbuhan tersebut berada di atas rata-rata pertumbuhan kredit industri sebesar 12,7 persen pada periode yang sama.
Pertumbuhan intermediasi tersebut juga didukung struktur pendanaan yang semakin kuat. DPK Bank Mandiri bank only tercatat Rp1.710 triliun, tumbuh 17,1 persen secara tahunan. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan DPK industri sebesar 10,2 persen.
Kinerja intermediasi tersebut turut memperkuat fundamental keuangan Bank Mandiri dan menopang profitabilitas di tengah ekspansi bisnis yang berkelanjutan.
Sepanjang semester I 2026, pendapatan Bank Mandiri tumbuh 10,3 persen secara tahunan. Sementara itu, laba bersih konsolidasi tercatat Rp30,4 triliun, tumbuh 24,4 persen secara tahunan. (*)
Editor: Yulian Saputra


