Poin Penting
- Laba Bank Jateng turun 15,79 persen menjadi Rp616,48 miliar pada Semester I 2026 akibat kenaikan beban operasional
- CASA naik ke 53,57 persen, mencerminkan efisiensi pendanaan di tengah penurunan DPK
- Permodalan tetap kuat, dengan CAR 22,53 persen dan NPL masih di bawah batas aman regulator.
Jakarta – Laba bersih Bank Jateng pada Juni 2026 (semester I 2026) tercatat Rp616,48 miliar atau turun 15,79 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp732,10 miliar.
Penurunan laba tersebut terjadi di tengah tekanan biaya operasional yang meningkat, meski bisnis inti bank masih menunjukkan daya tahan yang baik. Di sisi lain, penguatan komposisi dana murah menjadi salah satu pencapaian paling menonjol Bank Jateng pada paruh pertama tahun ini.
Mengutip laporan publikasi Bank Jateng pada Rabu (29/7), kinerja laba dipengaruhi oleh pendapatan bunga yang turun tipis 0,92 persen secara tahunan menjadi Rp3,71 triliun dari Rp3,74 triliun. Tapi, beban bunga berhasil ditekan hingga 12,57 persen menjadi Rp1,21 triliun dari Rp1,39 triliun.
Penurunan biaya dana atau cost of fund ini menunjukkan strategi pendanaan Bank Jateng berjalan cukup efektif di tengah persaingan likuiditas.
Baca juga: Kinerja BPD Tetap Solid di Tengah Persaingan Industri Perbankan, Ini Buktinya
Sementara, efisiensi beban bunga membuat pendapatan bunga bersih atau net interest income justru tumbuh 5,94 persen menjadi Rp2,50 triliun. Kenaikan pendapatan bunga bersih itu turut mendorong rasio net interest margin (NIM) meningkat dari 5,26 persen menjadi 5,45 persen.
Peningkatan NIM mencerminkan kemampuan Bank Jateng menjaga profitabilitas bisnis intermediasi meski pendapatan bunga mengalami sedikit koreksi.
Di sisi lain, kenaikan laba tertahan oleh membengkaknya beban operasional lainnya sebesar 20,80 persen menjadi Rp1,71 triliun. Salah satu penyebab utamanya adalah beban kerugian penurunan nilai aset keuangan (impairment) yang melonjak 100,10 persen menjadi Rp522,14 miliar.
Langkah tersebut menunjukkan Bank Jateng memperkuat pencadangan sebagai bentuk antisipasi terhadap potensi risiko kredit ke depan, meski konsekuensinya memberi tekanan pada laba periode berjalan.
Pada fungsi intermediasi, penyaluran kredit Bank Jateng relatif stabil di level Rp63,41 triliun atau hanya turun 0,08 persen dibandingkan tahun lalu. Dari sisi kualitas aset, rasio NPL Gross naik menjadi 3,96 persen dari 3,72 persen, sedangkan NPL Net meningkat menjadi 0,34 persen dari 0,27 persen.
Meski mengalami kenaikan, kedua rasio itu masih berada di bawah ambang batas aman regulator sebesar 5 persen, sehingga kualitas kredit bank masih tergolong terjaga.
Dari sisi pendanaan, dana pihak ketiga (DPK) tercatat Rp72,51 triliun atau turun 6,27 persen secara tahunan. Penurunan terutama berasal dari deposito yang menyusut 12,80 persen menjadi Rp33,67 triliun, sementara giro turun 7,10 persen menjadi Rp10,25 triliun.
Menariknya, tabungan justru tumbuh 3,17 persen menjadi Rp28,60 triliun sehingga total dana murah tetap meningkat tipis 0,25 persen menjadi Rp38,84 triliun.
Perbaikan struktur pendanaan terlihat semakin jelas dari rasio dana murah atau CASA yang naik dari 50,09 persen menjadi 53,57 persen. Kenaikan ini menjadi salah satu capaian paling positif Bank Jateng karena menunjukkan ketergantungan terhadap deposito (dana mahal) semakin berkurang.
Komposisi pendanaan yang lebih sehat memberi ruang bagi bank ini untuk menjaga efisiensi biaya dana sekaligus memperkuat daya saing dalam jangka panjang.
Total aset Bank Jateng hingga Juni 2026 mencapai Rp95,03 triliun atau tumbuh 0,41 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sementara, modal inti naik tipis 0,33 persen menjadi Rp9,95 triliun dan rasio kecukupan modal (CAR) berada di level 22,53 persen, lebih tinggi dari 22,48 persen pada tahun sebelumnya.
Dengan permodalan yang kuat, Bank Jateng memiliki ruang yang memadai untuk mendukung ekspansi bisnis secara berkelanjutan.
Baca juga: Bank Jateng Sabet Penghargaan Infobank Digital Brand Award 2026
Direktur Utama Bank Jateng Bambang Widyatmoko, yang mulai memimpin sejak Maret 2026, menghadapi tantangan menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan kualitas aset.
Sejumlah rasio profitabilitas memang mengalami penyesuaian, terlihat dari ROA yang turun menjadi 1,68 persen dan ROE menjadi 12,01 persen, sementara BOPO naik ke 81,77 persen serta CIR bergerak tipis ke 57,54 persen.
Tapi, LDR meningkat ke level 86,59 persen yang masih berada dalam kisaran ideal 78 persen-92 persen, didukung permodalan yang solid, kualitas kredit yang tetap dalam batas aman, serta penguatan dana murah yang menjadi fondasi positif bagi kinerja Bank Jateng ke depan. (*) Ari Nugroho


