Poin Penting
- Bank Dunia membantu BNPB memasang enam unit sistem peringatan dini di Lampung Selatan.
- Perangkat tersebut memberi peringatan otomatis terkait gempa dan peningkatan gelombang laut.
- Gunung Anak Krakatau tercatat mengalami 20 kali erupsi pada 17 Agustus.
Jakarta – Bank Dunia membantu memperkuat sistem peringatan dini Gunung Anak Krakatau melalui pemasangan enam perangkat. Alat tersebut ditempatkan di sejumlah desa pesisir Kabupaten Lampung Selatan yang berisiko terdampak erupsi.
Bantuan tersebut disalurkan melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Pemasangan dilakukan pada wilayah yang telah diidentifikasi sebagai titik terdampak awal.
Kepala BPBD Provinsi Lampung, Rudy Syawal, mengatakan pemantauan aktivitas gunung terus dilakukan. BPBD juga rutin berkoordinasi dengan Pos Pantau Krakatau untuk mengantisipasi perkembangan erupsi.
“Memang beberapa waktu ini Gunung Anak Krakatau ada eskalasi erupsi, sehingga kami secara rutin melakukan koordinasi dengan Pos Pantau Krakatau,” ujar Rudy di Bandarlampung, dikutip Antara, Rabu (19/8).
Baca juga: Danantara Klaim Transformasi BUMN Berhasil, Laba Krakatau Steel hingga Pertamina Melonjak
Bank Dunia Perkuat Sistem Peringatan Dini di Lampung Selatan
Rudy menjelaskan perangkat tersebut dipasang pada enam lokasi di kawasan pesisir Lampung Selatan. Penempatan dilakukan berdasarkan pemetaan wilayah yang berpotensi terdampak erupsi lebih dahulu.
“Untuk Kabupaten Lampung Selatan sudah diidentifikasi, saat ada erupsi itu ada beberapa titik yang akan terdampak pertama kali. Dan di sana kami pasang alat early warning system bantuan dari Bank Dunia melalui BNPB,” katanya.
Perangkat tersebut berfungsi memberikan informasi awal ketika terjadi kondisi darurat. Sirene akan berbunyi saat muncul ancaman gempa atau peningkatan tinggi gelombang laut.
“Alat early warning system yang ada di daerah pesisir ini secara otomatis akan memberikan informasi awal, kalau terjadi erupsi yang berdampak pada peningkatan tinggi gelombang laut atau gempa. Dan bila ada kendala teknis tim pusat pengendalian operasi (pusdalop) bisa menyalakannya dari pos pantau secara manual,” ucap Rudy.
Mekanisme tersebut memberi dua jalur peringatan bagi masyarakat di wilayah terdampak. Selain otomatis, perangkat dapat diaktifkan manual dari pos pantau ketika terjadi kendala teknis.
Perangkat Dipasang di Desa Tangguh Bencana
Enam unit alat tersebut dipasang pada desa yang berstatus Desa Tangguh Bencana. Pemilihan lokasi berkaitan dengan tingkat kerawanan bencana di Lampung Selatan.
“Karena Lampung Selatan memiliki tingkat kerawanan bencana cukup banyak, di sana sudah banyak Desa Tangguh Bencana (Destana) yang dibentuk dengan bantuan dari NGO ataupun Bank Dunia. Dan alat early warning system dipasang di desa dengan predikat tangguh tersebut,” tambahnya.
Status tersebut menunjukkan masyarakat telah memiliki kesiapan menghadapi bencana. Warga juga telah mendapat pelatihan untuk melakukan mitigasi secara cepat.
“Jadi di desa itu masyarakat sudah terbiasa, dan terlatih ketika ada kejadian, dan mereka bisa dengan cepat melakukan mitigasi di wilayahnya. Saat ini kami juga terus melakukan pemantauan melalui pusdalop untuk melihat kondisi terkini Gunung Anak Krakatau,” ujar Rudy.
Baca juga: Berkat Strategi Ini, Krakatau Steel dan Kimia Farma Berbalik Cetak Laba
Aktivitas Gunung Anak Krakatau Terus Dipantau
Pemantauan menunjukkan aktivitas kegempaan Gunung Anak Krakatau masih berlangsung. Data BPBD Lampung mencatat aktivitas tersebut pada Selasa, 18 Agustus, pukul 06.00-12.00 WIB.
Dalam periode tersebut terjadi 60 kali gempa hembusan. Amplitudonya mencapai 18,5-72 milimeter dengan durasi 22-78 detik.
Tercatat pula dua kali gempa frekuensi rendah. Amplitudonya berada pada kisaran 21-58 milimeter dengan durasi 7-16 detik.
Gempa hybrid atau fase banyak juga terjadi dalam periode pengamatan. Amplitudonya mencapai 13,6-68 milimeter dengan durasi lima hingga 23 detik.
Selain itu, tercatat satu kali gempa tremor menerus. Amplitudonya berada pada kisaran 1-40 milimeter.
Sehari sebelumnya, PVMBG mencatat Gunung Anak Krakatau mengalami 20 kali erupsi. Status gunung saat itu berada pada level siaga.
Masyarakat dan pengunjung kemudian dilarang mendekati kawasan gunung. Aktivitas juga tidak diperbolehkan dalam radius tiga kilometer dari kawah aktif.
Penguatan sistem peringatan dini menjadi langkah penting menghadapi aktivitas Gunung Anak Krakatau. Dukungan Bank Dunia diharapkan membantu mempercepat respons masyarakat saat ancaman bencana muncul. (*)
Editor: Yulian Saputra


