Poin Penting
- Greg Brockman memperingatkan ancaman keamanan siber berkembang seiring kemampuan AI.
- Insiden Hugging Face menunjukkan AI mampu menemukan celah keamanan dengan lebih cepat.
- Perusahaan didorong mengotomatisasi sistem keamanan untuk menghadapi ancaman berbasis AI.
Jakarta – Presiden sekaligus pendiri OpenAI, Greg Brockman, memperingatkan ancaman keamanan siber semakin canggih akibat perkembangan akal imitasi (AI). Ia meminta perusahaan memperkuat pertahanan sebelum kemampuan teknologi tersebut semakin sulit diimbangi.
Peringatan itu muncul setelah insiden yang melibatkan agen AI OpenAI dan platform Hugging Face. Peristiwa tersebut menunjukkan kemampuan AI dalam menemukan kelemahan sistem secara lebih cepat.
Brockman menilai perubahan tersebut menjadi titik penting bagi dunia keamanan digital. Perusahaan kini menghadapi kebutuhan meningkatkan perlindungan dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Baca juga: OpenAI Resmi Jadi Pemungut PPN, Penerimaan Pajak Digital RI Tembus Rp44,55 Triliun
Ancaman Siber yang Belum Pernah Terjadi Sebelumnya
Brockman mengatakan banyak organisasi mulai menyadari kebutuhan mengubah praktik keamanan mereka secara fundamental. Menurutnya, perubahan itu harus dilakukan segera karena kemampuan AI terus berkembang.
“Saya telah berbicara dengan banyak organisasi selama beberapa minggu terakhir, dan satu tema terlihat jelas: mereka tahu bahwa mereka perlu meningkatkan praktik keamanan siber secara fundamental dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya,” tulis Brockman dalam blog pribadinya, dikutip Business Insider, Selasa (18/8/2026).
Peringatan tersebut berkaitan dengan pengungkapan OpenAI pada Juli lalu. Dalam pengujian internal, agen AI OpenAI mampu keluar dari lingkungan pengujian.
Sistem itu kemudian berhasil menyusupi Hugging Face, platform untuk menerbitkan dan berbagi model AI. Insiden tersebut memperlihatkan kemampuan AI dalam mendeteksi kelemahan keamanan.
Brockman melihat kemampuan tersebut akan terus meningkat seiring perkembangan model AI. Kondisi itu membuat perusahaan perlu mengantisipasi perubahan ancaman sejak sekarang.
AI Percepat Deteksi Celah Keamanan
Brockman menilai AI tidak hanya meningkatkan kemampuan penyerang dalam menemukan kerentanan. Teknologi yang sama juga dapat membantu perusahaan menutup celah sebelum dimanfaatkan pihak lain.
“AI juga akan membuat jauh lebih mudah untuk memperbaiki celah keamanan guna mencegah serangan,” tulis Brockman.
Pandangan itu menunjukkan perlombaan baru dalam keamanan digital. Penyerang dan pihak bertahan sama-sama dapat memanfaatkan kemampuan AI untuk meningkatkan kecepatannya.
Brockman kemudian membagikan 10 langkah bagi perusahaan sebagai pihak yang bertahan. Langkah tersebut diarahkan untuk memperkuat pertahanan menghadapi ancaman yang berkembang cepat.
Ia menilai perusahaan tidak lagi cukup mengandalkan pendekatan keamanan siber konvensional. Organisasi perlu meningkatkan kemampuan pertahanan seiring semakin canggihnya teknologi AI.
Baca juga: Etika Pembuat dan Pengguna AI
Perusahaan Diminta Bergerak Lebih Cepat
Brockman menekankan pentingnya kecepatan dalam menghadapi perubahan tersebut. Menurutnya, perusahaan harus segera menjalankan langkah penguatan keamanan yang diperlukan.
“Waktu sangatlah penting, dan para defender perlu menjalankan langkah-langkah di bawah ini dengan kecepatan turbo,” tulisnya.
Ia juga mendorong organisasi mulai mengotomatisasi program keamanan secara signifikan. Langkah itu dinilai perlu dilakukan dalam beberapa bulan mendatang.
Tujuannya menjaga perusahaan tetap aman ketika kemampuan AI berkembang semakin pesat. Kecepatan pertahanan harus mampu melampaui perkembangan kemampuan serangan.
“Dalam beberapa bulan mendatang, setiap organisasi perlu mulai mengotomatisasi program keamanan mereka secara signifikan agar tetap aman, dan komunitas keamanan harus segera bangkit untuk menentukan perangkat, praktik, dan playbook yang akan meningkatkan kekuatan para defender lebih cepat daripada para attacker seiring AI terus berkembang,” jelasnya.
Peringatan Greg Brockman menegaskan perubahan besar dalam lanskap keamanan digital. Perusahaan perlu memperkuat pertahanan sebelum ancaman keamanan siber berkembang semakin canggih. (*)
Editor: Yulian Saputra


