Poin Penting
- Bank Aladin Syariah mempercepat target turnaround dari 2026 menjadi 2025 dan membukukan laba bersih Rp150,71 miliar.
- Tiga faktor utama pendorong kinerja adalah selesainya fase investasi teknologi, efisiensi operasional, serta pertumbuhan DPK dan fee based income.
- DPK tumbuh 92 persen menjadi Rp10,4 triliun dengan jumlah nasabah mencapai 3,7 juta pengguna.
Jakarta – PT Bank Aladin Syariah Tbk berhasil membalikkan kinerja menjadi positif pada 2025. Perseroan mengungkapkan terdapat tiga faktor utama yang mendorong perbaikan kinerja tersebut, yakni selesainya fase investasi teknologi informasi, efisiensi operasional, serta pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK).
Presiden Direktur Bank Aladin Syariah, Koko Tjatur Rachmadi, mengatakan pencapaian tersebut bahkan terjadi lebih cepat dibandingkan target yang telah ditetapkan dalam rencana bisnis perusahaan.
“Sebenarnya berdasarkan corporate plan, target turnaround kami baru akan terjadi pada akhir 2026. Namun, kami berhasil memanfaatkan momentum ekonomi yang lebih kondusif setelah berbagai agenda nasional selesai, sehingga target turnaround yang semula diproyeksikan terjadi pada 2026 bisa dipercepat menjadi 2025,” ujar Koko dalam paparan publik Bank Aladin Syariah, secara virtual, Kamis, 4 Juni 2026.
Baca juga: Bank Aladin Syariah Gandeng BAZNAS Hadirkan Layanan Pembayaran Kurban Digital
Menurut Koko, salah satu faktor utama yang mendukung perbaikan kinerja adalah selesainya fase investasi besar yang dilakukan sejak 2021 hingga 2024.
Sebagai bank digital, Bank Aladin Syariah harus mengalokasikan investasi yang cukup besar untuk membangun infrastruktur teknologi informasi dan sistem keamanan nasabah. Setelah fondasi tersebut selesai dibangun, perseroan mulai merasakan manfaat skala ekonomi yang mendorong peningkatan profitabilitas.
“Periode 2021-2024 merupakan fase investasi besar bagi kami. Ketika seluruh infrastruktur tersebut sudah siap, kami bisa memasuki fase berikutnya. Kami pun mulai lepas landas pada 2025. Karena itu, kami mampu mengubah tingkat rentabilitas yang sebelumnya negatif menjadi positif,” tambahnya.
Efisiensi Operasional jadi Penopang Kinerja
Faktor kedua berasal dari efisiensi operasional yang melekat pada model bisnis bank digital.
Koko menjelaskan, operasional bank digital relatif lebih efisien dibandingkan bank konvensional karena tidak membutuhkan jaringan kantor fisik yang luas. Kondisi tersebut membantu perseroan mengoptimalkan struktur biaya.
Sepanjang 2025, Bank Aladin Syariah membukukan laba operasional sebesar Rp1,32 triliun, lebih tinggi dibandingkan beban operasional yang tercatat Rp1,175 triliun.
“Dari sisi bisnis, setelah fase konsolidasi dan pembangunan infrastruktur selesai, kami kemudian melakukan optimalisasi biaya. Sebagai bank digital, salah satu keuntungan yang kami miliki adalah tidak perlu mengeluarkan biaya besar untuk infrastruktur fisik, sehingga operasional bisa lebih efisien,” ujarnya.
Baca juga: Kolaborasi Bank Aladin Syariah, BSN, dan BCA Syariah Perkuat Transaksi Pasar Uang Syariah Lewat SiPA
Selain itu, kinerja Bank Aladin Syariah juga ditopang oleh kekuatan ekosistem yang dimiliki bersama Grup Alfamart.
Sinergi ini tidak hanya berkontribusi terhadap pertumbuhan portofolio bisnis, tetapi juga meningkatkan aktivitas transaksi nasabah. “Per Februari 2025, jumlah transaksi telah mencapai sekitar 20 juta transaksi per bulan,” kata Koko.
DPK Melonjak dan Transaksi Nasabah Meningkat
Faktor ketiga berasal dari pertumbuhan DPK dan peningkatan kontribusi pendapatan berbasis komisi atau fee based income.
Sepanjang 2025, DPK Bank Aladin Syariah tumbuh 92 persen secara tahunan (year-on-year/YoY) menjadi Rp10,4 triliun. Pada saat yang sama, jumlah nasabah mencapai sekitar 3,7 juta pengguna.
“Bagi bank digital, sumber pendapatan tidak hanya berasal dari net interest margin (NIM), tetapi juga dari fee based income yang dihasilkan dari aktivitas dan transaksi nasabah. Saat ini kami memiliki sekitar 3,7 juta nasabah, dengan sekitar 40 persen sampai 50 persen di antaranya merupakan nasabah aktif. Basis nasabah aktif tersebut cukup mendongkrak fee based income yang kami peroleh sepanjang 2025,” ujar Koko.
Fokus Tingkatkan Kualitas Laba pada 2026
Ke depan, Bank Aladin Syariah optimistis tren pertumbuhan kinerja dapat terus berlanjut seiring semakin kuatnya fundamental bisnis dan berkembangnya ekonomi syariah serta digital di Indonesia.
“Dengan model digital banking, kami optimistis kinerja positif ini akan sustainable. Fokus 2026 kami bergeser ke peningkatan kualitas laba dan profitabilitas yang lebih sehat,” tuturnya.
Baca juga: Bank Aladin Syariah Perkuat Ekosistem dan Social Finance untuk Dorong Pertumbuhan 2026
Sebagai informasi, Bank Aladin Syariah membukukan laba bersih Rp150,71 miliar pada 2025, berbalik dari rugi Rp73,73 miliar pada tahun sebelumnya.
Selain itu, pembiayaan tumbuh 9,58 persen menjadi Rp5,20 triliun, sementara total aset mencapai Rp14,42 triliun atau tumbuh 54,05 persen.
Kualitas aset juga tetap terjaga dengan rasio pembiayaan bermasalah (non-performing financing/NPF) gross sebesar 0,22 persen dan NPF net sebesar 0,15 persen. (*) Ayu Utami


