Poin Penting
- BMKG memperingatkan potensi cuaca ekstrem dan hujan di sejumlah wilayah yang dapat memicu banjir serta longsor.
- Sekitar 3.500 warga terdampak banjir di lima desa di Gorontalo Utara, dengan kondisi terparah terjadi di KAT Didingga.
- BPBD meminta masyarakat waspada terhadap banjir dan longsor susulan karena curah hujan masih tinggi.
Jakarta – Banjir merendam sejumlah wilayah usai hujan deras mengguyur Provinsi Gorontalo dalam beberapa hari terakhir. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pun mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem yang masih dapat terjadi sewaktu-waktu.
BMKG memprakirakan sejumlah wilayah di Indonesia masih berpotensi mengalami hujan ringan hingga lebat pada Jumat. Untuk wilayah Sulawesi, hujan lebat disertai kilat diperkirakan terjadi di Manado, sementara Gorontalo berpotensi diguyur hujan ringan hingga sedang.
Prakirawan BMKG, Sastia, mengatakan kondisi cuaca di berbagai daerah perlu diantisipasi masyarakat, terutama di wilayah yang rawan banjir dan longsor.
“Untuk Pulau Jawa, hujan ringan hingga sedang diprakirakan mengguyur Bandung dan Semarang. Adapun Jakarta, Serang, Yogyakarta hingga Surabaya diperkirakan berawan,” kata Sastia dikutip Antara, Jumat (29/5/2026).
Baca juga: Banjir Luapan Semeru Rendam Rumah 300 Keluarga di Lumajang
Banjir Gorontalo Terparah Rendam Komunitas Adat Didingga
Bencana Banjir Gorontalo paling parah terjadi di wilayah Komunitas Adat Terpencil (KAT) Didingga, Desa Didingga, Kecamatan Biau, Kabupaten Gorontalo Utara. Hingga Rabu, banjir dilaporkan masih merendam kawasan tersebut dengan arus deras dan ketinggian air mencapai jendela rumah warga.
Bupati Gorontalo Utara, Thariq Modanggu, mengatakan sedikitnya lima desa terdampak banjir, yakni Desa Luhuto, Bualo, Biau, Omuto, dan Didingga. Ketinggian air di beberapa lokasi mencapai lutut orang dewasa.
“Sekitar 3.500 warga terdampak banjir di lima desa ini, terparah dialami warga di KAT Didingga sebab hingga kini air belum surut bahkan mulai naik lagi setelah sempat surut sekitar 20 sentimeter pada dini hari tadi (Rabu),” kata Thariq dari lokasi banjir.
Ia mengaku memilih menginap di lokasi terdampak agar proses penanganan darurat dapat dilakukan lebih cepat bersama BPBD dan Dinas Sosial. Pemerintah daerah juga telah menyalurkan bantuan darurat dan mengoperasikan dapur umum untuk warga terdampak.
“Kami meminjam dapur Makan Bergizi Gratis (MBG). Koordinasi dengan pihak SPPG dan Yayasan dilakukan untuk memudahkan peminjaman dapur MBG, namun seluruh bahan makanan disiapkan oleh pemerintah daerah,” ujarnya.
Kerusakan Rumah dan Infrastruktur Meningkat
Data sementara menunjukkan tidak ada korban jiwa dalam peristiwa banjir bandang di Didingga. Namun, kerugian material diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah.
Tercatat tiga rumah roboh, satu rumah hanyut, dan sekitar 20 rumah mengalami kerusakan total dari total 54 rumah di kawasan KAT Didingga.
Pemerintah daerah juga terus berkoordinasi dengan pemerintah provinsi untuk mempercepat dukungan bantuan tanggap darurat. Menurut Thariq, kapasitas daerah terbatas untuk menangani seluruh dampak bencana secara mandiri.
“Kami berkoordinasi dengan instansi terkait dan pemerintah provinsi untuk dukungan bantuan tanggap darurat, karena tidak mungkin pemerintah daerah ini dapat menangani keseluruhan,” katanya.
Baca juga: Update Banjir di Kendari: 2.985 Warga Terdampak dan 657 Rumah Terendam
BPBD Imbau Warga Waspadai Banjir Susulan
Selain di Gorontalo Utara, banjir dan longsor juga terjadi di wilayah Kecamatan Bone, Kabupaten Bone Bolango. Hujan deras yang mengguyur sejak Selasa malam menyebabkan puluhan rumah warga terdampak.
BPBD mencatat sebanyak 35 rumah terdampak banjir dan satu rumah mengalami rusak berat akibat terbawa arus serta longsor. Bencana tersebut berdampak terhadap 35 kepala keluarga atau sekitar 105 jiwa.
Sementara itu, data sementara warga terdampak di Kecamatan Bone tersebar di sejumlah desa, yakni Desa Muara Bone sebanyak 50 kepala keluarga, Desa Moodulio 97 kepala keluarga, Desa Taludaa 100 kepala keluarga, dan Desa Masiaga 10 kepala keluarga.
Petugas gabungan dari pemerintah desa, TNI, Polri, dan relawan masih melakukan evakuasi, asesmen, serta pembersihan material banjir dan longsor di lokasi terdampak.
BPBD Kabupaten Bone Bolango menyebut kebutuhan mendesak warga saat ini meliputi makanan siap saji, bantuan material bangunan, hingga alat berat untuk membersihkan material longsor.
Di tengah tingginya curah hujan, masyarakat diminta tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi banjir dan longsor susulan. BMKG maupun BPBD mengingatkan cuaca ekstrem masih berpotensi terjadi dalam beberapa hari ke depan. (*)
Editor: Galih Pratama


