Poin Penting
- Bakom menyebut perekonomian Indonesia menghadapi empat tekanan sekaligus atau quadruple whammy.
- Tekanan berasal dari defisit perdagangan, kontraksi PMI manufaktur, kenaikan inflasi, dan melemahnya keyakinan konsumen.
- Tingginya biaya produksi dan melemahnya ekspor dinilai menjadi faktor utama perlambatan ekonomi.
Jakarta – Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) mengungkapkan perekonomian Indonesia tengah menghadapi empat tekanan sekaligus atau quadruple whammy. Kondisi tersebut dinilai menjadi tantangan serius bagi pertumbuhan ekonomi nasional.
Tenaga Ahli Bakom, Fithra Faisal, mengatakan tekanan tersebut berasal dari defisit neraca perdagangan, kontraksi Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur, kenaikan inflasi, serta melemahnya indeks keyakinan konsumen.
“Saya akan menyampaikan beberapa data terkini yang menghadirkan concern, kekhawatiran buat kita semua. Bukan hanya triple whammy, tetapi quadruple whammy,” ujar Fithra dalam acara Forum Reindustrialisasi Indonesia, Memutar Roda Perekonomian Nasional, Rabu, 8 Juli 2026.
Baca juga: Realisasi Stimulus Transportasi Semester II Lampaui Target, Dongkrak Ekonomi Daerah
Fithra menjelaskan, tekanan pertama berasal dari neraca perdagangan yang mencatat defisit sebesar 1,6 miliar dolar AS pada Mei 2026. Angka tersebut mengakhiri tren surplus perdagangan yang telah berlangsung selama 72 bulan berturut-turut sejak April 2020.
Tekanan kedua datang dari PMI manufaktur yang turun ke level 46,9, menandakan aktivitas industri masih berada di zona kontraksi.
Selanjutnya, inflasi tahunan meningkat menjadi 3,34 persen dari sebelumnya 3,08 persen. Sementara itu, Indeks Keyakinan Konsumen (Consumer Confidence Index/CCI) turun menjadi 117,8 dari 120,9
Biaya Produksi Naik, Industri Tahan Ekspansi
Menurut Fithra, kontraksi sektor manufaktur dipicu oleh meningkatnya biaya produksi, terutama biaya energi.
Kondisi tersebut membuat pelaku industri menunda ekspansi karena margin usaha semakin tertekan.
Ia juga menyoroti kesenjangan antara Producer Price Index (PPI) sebesar 5,76 persen pada Mei 2026 dan Consumer Price Index (CPI) yang berada di level 3,08 persen.
Perbedaan tersebut menunjukkan biaya produksi meningkat lebih cepat dibandingkan harga jual kepada konsumen.
“Karena kalau ingin menaikkan harga, kecenderungannya di Indonesia price elastic. Kalau harganya naik, yang terjadi adalah demand-nya anjlok. Maka yang dilakukan pengusaha adalah shrinkflation,” ungkapnya.
Baca juga: D-8 Perkuat Kerja Sama Ekonomi Lewat Halal Expo, Bidik Perdagangan USD500 Miliar
Pelemahan Ekspor Jadi Penyebab Defisit Perdagangan
Fithra menjelaskan defisit perdagangan terutama dipicu melemahnya ekspor nonmigas yang menyumbang sekitar 95 persen dari total ekspor Indonesia.
Pada Mei 2026, ekspor migas tercatat sebesar 758 juta dolar AS, sedangkan impor migas mencapai 4,5 miliar dolar AS sehingga menghasilkan defisit migas sebesar 3,8 miliar dolar AS.
Di sisi lain, pelemahan ekspor nonmigas membuat neraca perdagangan secara keseluruhan mengalami defisit 1,6 miliar dolar AS.
“Masalahnya adalah di ekspor. Kalau kita lihat ekspor kita kemarin, terutama dari sisi ekspor nonmigas, karena ekspor non-migas itu kan 95 persen dari seluruh ekspor kita, ekspor nonmigas itu anjok 4,5 persen, jadi menyebabkan ekspor kita secara year on year, minus 5,7 persen,” jelasnya.
Ekspor CPO dan Besi Baja Tertekan
Fithra mengungkapkan penurunan ekspor terjadi pada sejumlah komoditas utama, terutama minyak sawit mentah (CPO) dan besi baja.
Ekspor CPO yang pada April 2026 masih tumbuh 66,59 persen secara tahunan berbalik terkontraksi 14,23 persen pada Mei 2026. Sementara itu, ekspor besi baja yang sebelumnya tumbuh 8,1 persen turun menjadi minus 14,64 persen.
Menurutnya, salah satu penyebab pelemahan tersebut adalah fenomena front-loading ekspor ke Amerika Serikat (AS) sebelum pemberlakuan tarif baru berdasarkan Section 301 Trade Act.
Baca juga: Kemendag Siapkan 3 Strategi Dongkrak Ekspor di Tengah Ketidakpastian Global
Hal itu terlihat dari ekspor Indonesia ke AS yang sempat melonjak 38,72 persen pada April, tetapi kemudian turun 24,21 persen pada Mei 2026.
“Tapi tidak juga dipungkiri bahwa memang ada aktivitas eksportir yang ingin menahan diri untuk ekspor juga. Karena apa? Ya, ongkos produksinya sudah tinggi,” tambahnya. (*)
Editor: Yulian Saputra


