Poin Penting
- Net foreign sell mencapai Rp88,01 triliun hingga 30 Juni 2026, memicu penurunan likuiditas dan aktivitas perdagangan di BEI
- Derasnya arus keluar dana asing membuat nilai transaksi harian anjlok lebih dari 65 persen dalam dua pekan, disertai penyusutan volume dan frekuensi perdagangan
- Tingginya suku bunga global mendorong investor asing beralih ke aset yang lebih aman, sehingga menekan likuiditas pasar dan memperburuk koreksi IHSG.
Jakarta – Aksi net foreign sell di pasar saham Indonesia masih berlanjut. Hingga 30 Juni 2026, nilai dana asing yang keluar dari pasar modal tercatat mencapai Rp88,01 triliun secara year-to-date (ytd).
Pengamat Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menilai derasnya arus keluar dana asing tersebut telah menekan likuiditas perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Menurut Hendra, kondisi itu tercermin dari terus menurunnya nilai transaksi harian dalam beberapa pekan terakhir. Pada 19 Juni 2026, nilai transaksi masih berada di kisaran Rp26,5 triliun.
Namun, pada 29 Juni 2026 angkanya menyusut menjadi sekitar Rp9,1 triliun atau turun lebih dari 65 persen dalam kurun waktu kurang dari dua pekan.
Baca juga: Investor Asing Tercatat Keluar Rp1,20 Triliun, Didominasi Saham Bank
Pelemahan likuiditas juga terlihat dari volume perdagangan yang turun dari sekitar 30,7 miliar lembar saham menjadi sekitar 14 miliar lembar. Sementara itu, frekuensi transaksi ikut menyusut hingga mendekati 1,2 juta kali.
“Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pasar bukan sekadar mengalami koreksi harga, melainkan sedang mengalami pengeringan likuiditas (liquidity drying up),” ucap Hendra dalam keterangannya dikutip, 1 Juli 2026.
Ia menjelaskan, dalam situasi tersebut dana yang beredar di pasar semakin terbatas, aktivitas jual beli melemah, dan jumlah pelaku pasar yang aktif ikut berkurang.
Kondisi itu membuat kedalaman pasar (market depth) menjadi semakin tipis sehingga pergerakan harga saham lebih sensitif terhadap transaksi dengan nilai yang relatif kecil.
“Tidak mengherankan apabila volatilitas meningkat, sementara proses pemulihan pasar menjadi jauh lebih lambat dibandingkan ketika likuiditas masih melimpah,” imbuhnya.
Hendra menambahkan, selama ini investor institusi asing merupakan salah satu kontributor utama nilai transaksi di BEI. Karena itu, keluarnya dana asing secara konsisten belum sepenuhnya dapat diimbangi oleh investor domestik.
“Ketika dana asing keluar secara konsisten, investor domestik belum mampu sepenuhnya menggantikan besarnya dana yang ditarik tersebut. Akibatnya, aktivitas perdagangan menjadi jauh lebih sepi dibandingkan kondisi normal,” ujar Hendra.
Baca juga: Apakah Pasar Saham RI Bisa Bertahan di Emerging Market? Begini Prediksi Ekonom DBS
Menurutnya, arus keluar dana asing tidak terlepas dari dinamika ekonomi global. Tingkat suku bunga yang masih tinggi di negara-negara maju, terutama Amerika Serikat, membuat instrumen berisiko rendah seperti obligasi pemerintah AS tetap menawarkan imbal hasil yang menarik.
Kondisi tersebut mendorong investor global mengalihkan portofolionya dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, ke aset yang dinilai lebih aman. Pergeseran aliran modal itu pada akhirnya memberikan tekanan terhadap pasar saham domestik.
Sejalan dengan kondisi tersebut, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat terkoreksi 34,04 persen secara year-to-date dan bergerak pada kisaran level 5.317,90 hingga 9.174,47. (*)
Editor: Galih Pratama


