Poin Penting
- AS larang bank global bantu transaksi minyak Iran ke Tingkok, ancam sanksi
- Mayoritas ekspor Iran ke Tiongkok dinilai biayai program militer
- Distribusi pakai “shadow fleet”, ketegangan global meningkat.
Jakarta – Departemen Keuangan Amerika Serikat (AS) mengeluarkan peringatan keras kepada bank global agar tidak terlibat dalam transaksi yang berkaitan dengan pembelian minyak Iran oleh kilang di Tiongkok.
Dalam pernyataan resminya, Departemen Keuangan menegaskan bahwa bank atau institusi keuangan yang memfasilitasi transaksi dengan kilang independen Tiongkok, dikenal sebagai “teapot refinery” atau kilang kecil berisiko terkena sanksi. Kilang-kilang ini diketahui menjadi pembeli utama minyak mentah dari Iran.
Pemerintah AS sendiri mencatat sekitar 90 persen ekspor minyak Iran saat ini diserap oleh Tiongkok, dengan sebagian besar diolah oleh kilang independen tersebut. Washington menilai aliran dana dari perdagangan ini berkontribusi terhadap pendanaan program militer dan persenjataan Iran.
“Pendapatan ini pada akhirnya menguntungkan rezim Iran, program senjatanya, dan militernya. Beberapa kilang Tiongkok telah menggunakan sistem keuangan AS untuk melakukan transaksi dalam denominasi dolar dan membeli barang-barang AS,” tulis keterangan resmi Departemen Keuangan AS, dinukil CNBC, Rabu, 29 April 2026.
Sementara itu, Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, menegaskan bahwa pemerintah akan terus menerapkan kebijakan tekanan maksimal terhadap Teheran. Ia menyebut pihak mana pun baik individu, kapal, maupun entitas yang membantu distribusi minyak Iran berpotensi dikenai sanksi.
Baca juga: Konflik Timur Tengah Memanas, Pakar Nilai Impor Minyak AS Jadi Opsi Mitigasi
Selain itu, otoritas AS meminta lembaga keuangan untuk meningkatkan uji tuntas terhadap transaksi yang melibatkan kilang minyak di Provinsi Shandong, Tiongkok, serta entitas di Asia dan Timur Tengah yang terhubung dalam rantai pasok minyak Iran.
Peringatan keras AS ini merupakan bagian dari kebijakan “tekanan maksimum” yang kembali diperkuat sejak pemerintahan Donald Trump. Pekan lalu, AS bahkan telah menjatuhkan sanksi terhadap salah satu kilang besar di Tiongkok, yaitu Hengli Petrochemical, yang disebut sebagai pembeli utama minyak Iran.
Selain itu, empat kilang kecil lainnya juga telah masuk dalam daftar sanksi. Pengawasan kini diperluas hingga operator pelabuhan di Shandong serta penyedia logistik yang terlibat dalam distribusi minyak tersebut.
Modus “Armada Bayangan” dan Campuran Minyak
Departemen Keuangan AS juga mengungkap praktik pengiriman minyak Iran yang semakin kompleks. Minyak biasanya diangkut menggunakan “shadow fleet” atau armada bayangan—kapal tanker yang memanipulasi data lokasi untuk menghindari deteksi.
Pengiriman kerap melibatkan transfer antar kapal di wilayah seperti Teluk Persia atau Selat Malaka. Dalam beberapa kasus, minyak bahkan dicampur dengan pasokan dari negara lain atau dilabeli ulang sebagai “campuran Malaysia” untuk menyamarkan asal-usulnya.
Baca juga: Konflik Timur Tengah Memanas, BI Perkuat Intervensi Stabilkan Rupiah
Ketegangan Global Masih Tinggi
Diketahui, peringatan ini muncul menjelang rencana kunjungan Presiden Trump ke Beijing, di mana isu perdagangan dan investasi diperkirakan menjadi agenda utama. Di sisi lain, hubungan antara AS dan Iran masih diwarnai ketegangan meski telah ada gencatan senjata sementara.
Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, sebelumnya menegaskan bahwa Beijing menolak sanksi sepihak dan “penyalahgunaan kekuatan” dalam hubungan internasional.
Sementara itu, Iran masih belum membuka kembali jalur strategis Selat Hormuz, dan AS tetap mempertahankan tekanan terhadap ekspor energi negara tersebut.
Dengan meningkatnya pengawasan dan ancaman sanksi, ketegangan di sektor energi global diperkirakan akan terus berlanjut, terutama di tengah persaingan geopolitik antara kekuatan besar dunia. (*)
Editor: Galih Pratama




