APPBI Bidik Transaksi BINA Lebaran 2026 Tembus Rp53 Triliun

APPBI Bidik Transaksi BINA Lebaran 2026 Tembus Rp53 Triliun

Jakarta –  Asosiasi Persatuan Pusat Belanja Indonesia (APPBI) membidik transaksi penjualan pada program BINA (Belanja di Indonesia Aja) Lebaran 2026  senilai Rp53 triliun, selama penyelenggaraan pada 6 – 31 Maret 2026.

Target tersebut meningkat sekitar 20 persen dibandingkan capaian program serupa tahun sebelumnya. Hal ini mencerminkan optimisme pelaku ritel terhadap peningkatan aktivitas belanja masyarakat menjelang Lebaran.

“Kami menargetkan transaksi sebesar Rp53 triliun dalam program BINA Lebaran 2026,” kata Alphonzus Widjaja, Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI, di Jakarta, Jumat, 6 Maret 2026. 

Ia mengatakan, sebanyak 414 pusat perbelanjaan di seluruh Indonesia akan ikut serta di dalam penyelenggaraan Bina Lebaran tahun ini. 

Baca juga: Transaksi Digital BSI Naik 24 Persen per Ramadan, Siapkan Likuiditas Rp45 T Jelang Lebaran

Menurutnya, tren kunjungan masyarakat ke pusat perbelanjaan menjelang Lebaran menunjukkan peningkatan yang cukup positif. Hingga awal program berlangsung, tingkat kunjungan tercatat meningkat sekitar 10–15 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

“Secara prediksi trennya cukup baik. Tingkat kunjungan saat ini meningkat 10–15 persen dan diperkirakan bertahan hingga setelah Idulfitri,” ujarnya.

Puncak Belanja Jelang Mudik

Lanjutnya, APPBI memperkirakan puncak transaksi akan terjadi dalam dua pekan menjelang arus mudik Lebaran. Pada periode tersebut masyarakat biasanya meningkatkan aktivitas belanja untuk memenuhi kebutuhan Ramadan dan persiapan Idul Fitri.

“Puncak penjualan akan terjadi minggu ini. Mulai hari ini, Jumat, Sabtu, Minggu akan terus berlanjut sampai dengan nanti Minggu depan sebelum masyarakat pulang mudik, persiapan mudik,” bebernya.

Selain itu, lonjakan kunjungan juga diperkirakan terjadi kembali pada hari kedua Idul Fitri. Namun, pola konsumsi pada periode tersebut akan berbeda dibandingkan sebelum Lebaran.

Jika sebelum Idulfitri masyarakat cenderung membeli berbagai kebutuhan seperti fesyen, perlengkapan rumah tangga, dan hadiah Lebaran, setelah Lebaran aktivitas pengeluaran lebih banyak diarahkan pada sektor kuliner, hiburan, dan rekreasi keluarga.

Strategi Dorong Konsumsi Domestik

Ia bilang, APPBI menilai momentum Ramadan dan Lebaran tetap menjadi periode penting bagi sektor ritel dalam mendorong konsumsi rumah tangga.

Untuk menjaga momentum tersebut, asosiasi telah menyiapkan sejumlah program promosi sepanjang tahun. Di antaranya program Indonesia Shopping Festival pada Agustus serta Wonderful Indonesia Gastronomy (WIG) yang akan digelar pada September–Oktober bekerja sama dengan Kementerian Pariwisata.

Program tersebut juga menjadi strategi industri ritel untuk mengantisipasi periode low season setelah musim libur Lebaran.

Menurut Alphonzus, dalam situasi ekonomi global yang penuh ketidakpastian, penguatan konsumsi domestik menjadi langkah penting bagi sektor ritel.

“Kami yakin perdagangan dalam negeri harus terus didorong agar tidak terlalu bergantung pada situasi global,” pungkasnya. (*)

Editor: Galih Pratama

Related Posts

News Update

Netizen +62