Sektor Padat Karya Rentan
Ia menilai, dampak terhadap sektor usaha akan beragam. Industri yang memiliki ketergantungan tinggi pada energi dan logistik internasional diperkirakan merasakan tekanan langsung.
Sektor padat karya misalnya, akan menjadi salah satu yang paling rentan karena margin usaha yang tipis serta sensitivitas tinggi terhadap kenaikan biaya distribusi, bahan baku impor, dan potensi gangguan permintaan ekspor.
“Meski hubungan dagang langsung Indonesia dengan Iran dan Israel relatif terbatas, dunia usaha memandang efek tidak langsung melalui harga energi global, disrupsi perdagangan internasional, inflasi pangan, nilai tukar, dan sentimen pasar keuangan jauh lebih relevan bagi perekonomian nasional,” bebernya.
Baca juga: Trump Deklarasi Perang Besar di Iran, Ini Potensi Dampaknya ke Ekonomi RI
Dunia Usaha Wait and See
Shinta menegaskan, dalam jangka pendek, saat ini pelaku usaha fokus pada langkah mitigasi risiko yang realistis dan adaptif. Beberapa strategi yang ditempuh antara lain penyesuaian struktur biaya produksi dan distribusi, peningkatan efisiensi operasional, pengelolaan eksposur valuta asing secara lebih disiplin, diversifikasi sumber pasokan, hingga pemanfaatan instrumen lindung nilai atau natural hedging.
“Dunia usaha saat ini mengambil pendekatan wait and see but prepared apabila tekanan global berlanjut,” ujar APINDO.
APINDO pun mendorong pemerintah menjaga stabilitas harga energi dan pangan secara terukur, memperkuat cadangan serta distribusi logistik strategis, memastikan disiplin fiskal dan kebijakan moneter yang prudent, serta memberikan dukungan terarah kepada sektor-sektor yang berpotensi terdampak.
Baca juga: Pakar Nilai Langkah Prabowo Mediasi AS–Iran Tak Mudah, Ini Tantangannya
Di sisi lain, APINDO menilai Indonesia perlu tetap konsisten menjalankan politik luar negeri bebas dan aktif, menjaga posisi netral, serta mengedepankan prinsip perdamaian dan stabilitas kawasan.
Pendekatan yang tidak reaktif dinilai penting agar Indonesia tidak terseret dalam pusaran konflik geopolitik yang dapat menambah risiko ekonomi domestik.
“Koordinasi kebijakan yang solid dan terukur, akan menjadi penentu daya tahan ekonomi nasional di tengah dinamika global yang terus berkembang,” pungkasnya. (*)
Editor: Yulian Saputra









