Poin Penting
- Pergantian Menteri Keuangan dinilai menjadi momentum memperkuat koordinasi kebijakan fiskal dan moneter untuk menjaga stabilitas pasar keuangan.
- Yield SBN diproyeksikan berpotensi naik ke kisaran 7,2-7,3 persen di tengah kenaikan yield US Treasury.
- Stabilitas rupiah dan pasar obligasi sangat bergantung pada sinergi pemerintah dan Bank Indonesia untuk menjaga kepercayaan investor.
Jakarta – Head of Research and Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, mengungkapkan bahwa pergantian kepemimpinan di kursi Menteri Keuangan Republik Indonesia dinilai menjadi momentum penting bagi stabilitas pasar keuangan domestik.
Di tengah bayang-bayang tekanan global dan dinamika kenaikan imbal hasil (yield) US Treasury, ia memandang langkah ini berpotensi memperkuat koordinasi kebijakan fiskal dan moneter demi menjaga kepercayaan investor terhadap Rupiah dan Surat Berharga Negara (SBN).
Pergerakan yield US Treasury ke depan akan menjadi salah satu faktor penentu utama yang memengaruhi spread (selisih imbal hasil) dengan instrumen di Indonesia.
“Seberapa besar respons dari kenaikan US Treasury itu juga akan berpengaruh terhadap spread Indonesia. Ada potensi bagi yield SBN untuk kembali mengalami kenaikan, meskipun saat ini masih bisa diintervensi oleh Bank Indonesia,” ucap Rully dalam Media Day di Jakarta, Selasa, 15 September 2026.
Baca juga: Suahasil Apresiasi Purbaya, Sebut Warisan Kerjanya Akan Dilanjutkan
Rully memperkirakan, yield SBN ke depan berpotensi bergerak naik di kisaran 7,2-7,3 persen. Kendati demikian, ia mengingatkan adanya risiko tersendiri apabila spread antara instrumen berdenominasi rupiah dan dolar AS semakin menyempit.
Menipisnya selisih imbal hasil ini dikhawatirkan dapat memberikan disinsentif bagi investor untuk memegang aset-aset dalam rupiah.
“Ketika selisih imbalan antara instrumen rupiah dengan instrumen dolar itu mengecil, sehingga memberikan disinsentif untuk memegang aset rupiah, maka hal inilah yang sangat diperhatikan oleh bank sentral dalam melakukan intervensi,” imbuhnya.
Baca juga: Rupiah Dibuka Rp17.669, Berpeluang Menguat Usai Suahasil Dilantik Jadi Menkeu
Sehingga, di tengah tantangan pelebaran tekanan pada rupiah dan potensi kenaikan yield SBN, Rully menilai bahwa stabilitas pasar obligasi sangat bergantung pada eratnya sinergi antara otoritas fiskal dan moneter.
Pergantian Menkeu Dinilai Positif
Menurutnya, pergantian posisi Menteri Keuangan yang baru, di mana Suahasil Nazara resmi mengemban posisi tersebut membawa angin optimisme tersendiri terhadap koordinasi kebijakan makroekonomi ke depan.
“Dengan adanya perubahan dari posisi Menteri Keuangan saat ini yang digantikan oleh Pak Suahasil, koordinasi yang dilakukan akan lebih erat dan kuat. Antara Menteri Keuangan Pak Suahasil dan Gubernur BI, kami tahu mereka cukup dekat, sehingga akan bersama-sama mengutamakan stabilitas dalam jangka pendek,” ujar Rully.
Baca juga: Usai Dilantik Jadi Gubernur BI, Destry Damayanti Ungkap Fokus Kebijakan ke Depan
Adapun ia meyakini jajaran Kementerian Keuangan di bawah kepemimpinan yang baru sangat memahami betapa pentingnya menjaga kepercayaan pasar, serta mengendalikan volatilitas nilai tukar agar tidak terlalu tinggi.
Stabilitas ini dinilai krusial karena bermuara pada kredibilitas ekonomi nasional dan persepsi risiko (risk premium) Indonesia di mata investor asing.
Dengan kata lain, persepsi risiko investor asing terhadap Indonesia diharapkan kian membaik, sehingga tugas berikutnya yang harus dipertahankan secara konsisten adalah menjaga kepercayaan penuh terhadap ketahanan rupiah. (*)
Editor: Yulian Saputra


