Poin Penting
- Panin Sekuritas memperkirakan BI Rate masih berpotensi naik 25 bps pada kuartal III 2026 guna menjaga ekspektasi inflasi domestik di tengah tekanan harga yang masih tinggi
- Inflasi Juni 2026 tercatat 3,34 persen (yoy) dan 0,44 persen (mom), didorong kenaikan harga pangan, emas, serta biaya transportasi akibat naiknya harga BBM nonsubsidi
- Tekanan inflasi diproyeksi berlanjut pada semester II 2026 seiring risiko El Nino, pelemahan rupiah, imported inflation, serta dampak berlanjut program MBG.
Jakarta – Panin Sekuritas memperkirakan Bank Indonesia (BI) masih berpotensi menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate setidaknya 25 basis poin pada kuartal III 2026.
Dalam risetnya, analis Panin Sekuritas menilai langkah tersebut diperlukan untuk menjaga ekspektasi inflasi domestik tetap terkendali di tengah tren kenaikan harga.
Sebagai informasi, inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) Indonesia pada Juni 2026 tercatat sebesar 3,34 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).
Kontributor utama inflasi tahunan berasal dari kelompok makanan dan minuman serta komoditas perhiasan emas.
Sementara itu, secara bulanan (month-on-month/mom), inflasi mencapai 0,44 persen. Kenaikan tersebut terutama didorong oleh kelompok transportasi, khususnya harga bahan bakar transportasi.
Baca juga: BI Klaim Kenaikan Suku Bunga Acuan Berhasil Tarik Modal Asing USD9 Miliar
“Kami juga mempertahankan pandangan kami terhadap BI Rate yang akan kembali naik pada 3Q26 paling sedikit 25bps untuk mengontrol ekspektasi inflasi domestik,” tulis analis Panin Sekuritas dalam risetnya di Jakarta, 2 Juli 2026.
Analis Panin Sekuritas mencermati inflasi tercatat naik secara bulanan utamanya didorong dari sisi penawaran atau cost-push inflation.
Sedangkan dari jenis barang, andil inflasi Juni 2026 didominasi dari tekanan komponen harga transportasi seiring kenaikan harga BBM nonsubsidi.
Di sisi lain, pelemahan rupiah juga turut menambah tekanan pada kenaikan harga komoditas pangan utama, seperti harga bawang putih yang saat ini kurang lebih 90 persen didominasi oleh impor.
Secara tahunan, kelompok makanan dan minuman masih mendominasi andil inflasi, utamanya tekanan harga pada ikan segar, beras, minyak goreng, dan cabai merah.
“Kami menilai keberlanjutan program Makan Bergizi Gratis (MBG) tetap memberikan andil inflasi pada kelompok komoditas ini, walau dalam akselerasi yang melambat imbas penyesuaian operasional MBG yang relatif berkurang,” imbuhnya.
Baca juga: LPS Catat Tren Kenaikan Special Rate Deposito Bank, Dipicu Naiknya Suku Bunga
Ke depan, analis Panin Sekuritas memproyeksi tekanan inflasi masih akan persisten dan secara rerata akan relatif lebih tinggi dari semester I 2026.
Hal tersebut seiring dengan risiko El Nino yang menghambat panen produksi pangan serta imported inflation imbas pelemahan rupiah seiring menguatnya dolar Amerika Serikat (AS). (*)
Editor: Galih Pratama


