Poin Penting
Jakarta - Pertumbuhan ekonomi China memiliki pengaruh besar terhadap negara-negara ASEAN. Sebagai mitra dagang utama, kondisi ekonomi China tidak hanya menjadi pasar eksternal yang besar, tetapi juga memengaruhi stabilitas ekonomi domestik negara-negara di kawasan tersebut.
China menyerap sekitar 15–20 persen ekspor negara ASEAN, sementara 20–35 persen impor ASEAN berasal dari China. Ketergantungan perdagangan tersebut membuat kawasan Asia Tenggara sangat sensitif terhadap perubahan ekonomi di negara tersebut.
Hal itu diungkapkan oleh Analis Perusahaan Broker Elev8, Kar Yong Ang. Dalam laporannya, Elev8 menyebut hubungan saling ketergantungan antara ASEAN dan China berpotensi menghadapi hambatan signifikan pada 2026.
Baca juga: IHSG Melonjak 20 Persen di 2025, BEI: Lampaui Bursa ASEAN hingga AS
Setidaknya terdapat dua risiko utama yang dapat mengganggu prospek ekonomi, yakni krisis properti dan kelebihan kapasitas industri di China. Risiko tersebut juga diperburuk oleh ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat dan China.
Kar Yong Ang menjelaskan sektor properti yang sebelumnya menjadi pilar pertumbuhan ekonomi China kini mengalami perlambatan signifikan.
Pada pertengahan 2025, harga properti di China mengalami koreksi cukup dalam. Tingginya persediaan dan meningkatnya kekhawatiran gagal bayar kembali muncul di pasar.
Selain itu, isu pengembang seperti Vanke yang mencari perpanjangan obligasi dinilai dapat menggerus kepercayaan konsumen. Kondisi tersebut berpotensi menekan permintaan domestik dan berdampak pada penurunan impor dari negara-negara ASEAN.
Baca juga: Trump Akan Longgarkan Sanksi Minyak untuk Tekan Harga Energi Global
Di sisi lain, kelebihan kapasitas industri China juga memberi tekanan pada sektor manufaktur di Asia Tenggara.
Menurut laporan ING, overkapasitas produksi China membebani industri manufaktur regional serta menekan belanja modal.
Di Indonesia misalnya, jumlah pemutusan hubungan kerja (PHK) di sektor industri dan ritel mencapai sekitar 42.000 orang pada akhir 2025, meningkat 32 persen secara tahunan. Kondisi tersebut diduga terkait tekanan kompetitif dari produk China.
Fenomena serupa juga terjadi di negara lain. Harga mobil di Thailand dan ponsel pintar di Vietnam mengalami penurunan akibat tekanan deflasi dari ekspor murah China.
Baca juga: Skandal Emas Digital China Meledak, Investor Gagal Tarik Dana dan Emas Fisik
Sementara itu, investasi di sektor non-teknologi masih lesu karena pertumbuhan volume perdagangan global diperkirakan melambat tajam dari 2,4 persen pada 2025 menjadi hanya 0,5 persen pada 2026.
Page: 1 2
Poin Penting Agus Sugiarto memaparkan tujuh pilar penguatan OJK saat mengikuti fit and proper test… Read More
Poin Penting: Status Gunung Tambora dinaikkan dari Level I (Normal) menjadi Level II (Waspada) akibat… Read More
Poin Penting Darmansyah menilai konsolidasi internal OJK penting agar seluruh organisasi memiliki arah yang sama… Read More
Poin Penting: Pemerintah menyiapkan RUU Perumahan yang telah mendapat persetujuan Ketua Satgas Perumahan Hashim Djojohadikusumo.… Read More
Poin Penting Belanja pemerintah pusat hingga Februari 2026 mencapai Rp346,1 triliun (11 persen pagu APBN),… Read More
Poin Penting Penerimaan pajak Februari 2026 mencapai Rp245,1 triliun, tumbuh 30,4 persen atau 10,4 persen… Read More