Poin Penting
- PINTU bekerja sama dengan OJK dan Universitas Padjajaran melalui program Pintu Goes to Campus untuk meningkatkan literasi keuangan, khususnya aset kripto
- Meski jumlah investor kripto Indonesia telah mencapai 21 juta, tantangan utama masih pada rendahnya literasi
- Tingginya partisipasi Gen Z dalam investasi kripto, baik di Indonesia maupun global, mendorong pentingnya edukasi mendalam agar keputusan investasi lebih bijak dan terukur.
Jakarta – Platform investasi aset kripto, PT Pintu Kemana Saja (PINTU), menggandeng Otoritas Jasa Keuangan dan Universitas Padjajaran untuk meningkatkan literasi keuangan, khususnya aset kripto bagi kalangan mahasiswa.
Inisiatif edukasi dan literasi itu dikemas dalam Pintu Goes to Campus bertajuk “Financial Literacy” yang digelar di Universitas Padjajaran, Bandung. Kegiatan ini dihadiri lebih dari 200 mahasiswa.
Kegiatan kali ini dihadiri Rektor Unpad Arief Sjamsulaksan Kartasasmita, Kepala Departemen Pengaturan dan Perizinan Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto OJK Djoko Kurnijanto, Kepala Direktorat Pengawasan Lembaga Jasa Keuangan 1 OJK Provinsi Jawa Barat Melati Usman, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unpad Dian Masyita dan SVP Strategy & Business PINTU Andy Putra, serta Chief Marketing Officer PINTU Timothius Martin.
Baca juga: Volume Trading Tokenisasi Aset di PINTU Meningkat, 3 Aset Ini Paling Diminati
Dalam sambutannya, Arief Sjamsualksan Kartasasmita mengatakan, literasi keuangan sangat penting bagi kalangan mahasiswa. Tidak terkecuali soal aset kripto dan investasi. Saat ini, instrumen atau produk keuangan sangat beragam. Berbagai pemasalahan di sektor keuangan juga bervariasi.
Maka itu, literasi keuangan sangat penting agar bisa terhindar dari permasalahan. Pihak kampus sangat mendukung langkah edukasi dan literasi yang dilakukan berbagai pihak, termasuk PINTU.
“Mudah-mudahan hal ini dapat menjadi hal yang bermanfaat untuk kita mempersiapkan masa depan yang lebih baik,” ujarnya seperti dikutip dalam keterangan resmi, Senin, 13 April 2026.
Sementara, Djoko Kurniajanto mengingatkan mahasiswa soal literasi keuangan. Ia menyebut ada tantangan terkait aset kripro, yaitu masih adanya gap antara literasi dan inklusi. Kondisi ini membuat OJK terus melakukan sejumlah langkah strategis agar masyarakat yang berinvestasi di aset kripto tidak sekadar ikut-ikutan atau FOMO.
“Filosofi investasi yang ada di OJK itu masih sangat relevan dengan yang ada di crypto, yaitu perhatikan 2L, Legal dan Logis. Pastikan daftar aset keuangan digitalnya itu legal dan pastikan bertransaksi dengan exchange atau Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD) yang berlisensi dan diawasi oleh OJK dan pastikan logis jangan mudah tergiur tawaran investasi yang menjanjikan keuntungan pasti,” paparnya.
Di kesempatan sama, Timothius Martin, menyoroti masa depan adopsi kripto. Saat ini secara global ada sekitar 700 juta orang yang melakukan trading atau investasi aset kripto. Sedangkan di Indonesia, jumlahnya mencapai 21 juta orang, sudah lebih besar dibandingkan jumlah investor saham.
“Jadi memang masalahnya itu bukan adopsinya, yang menjadi tantangan adalah literasi dan edukasinya,” tegas Timo.
Baca juga: UU P2SK Dinilai Berisiko Sentralisasi Perdagangan Aset Kripto, Begini Tanggapan OJK
Maka itu, PINTU menggandeng berbagai pihak untuk melakukan edukasi dan literasi ke kampus-kampus. Tujuannya agar bisa bersama-sama memberikan edukasi tentang aset kripto kepada generasi muda masa depan, termasuk mahasiswa agar bisa mendapatkan pemahaman yang lebih menyeluruh sebelum mulai berinvestasi.
Sebagai tambahan, seiring meningkatnya minat generasi muda terhadap investasi digital, industri kripto dalam negeri terus tumbuh. Melansir data dari OJK per Februari 2026, jumlah investor aset kripto di Indonesia sebanyak 21,07 juta. Tren ini juga terjadi secara global. Data World Economic Forum menyebut, sekitar 42 persen investor Gen Z kini memiliki aset kripto.
Tren itu mencerminkan tingginya minat generasi muda terhadap instrumen investasi digital, termasuk kripto, sehingga penguatan literasi keuangan menjadi semakin relevan.
“Di tengah perkembangan industri yang cepat dan berbagai faktor global yang memengaruhi pasar, penting bagi generasi muda tidak hanya mengikuti tren, tetapi juga memahami investasi secara mendalam,” lanjut Timo. (*) Ari Astriawan


