Poin Penting
- Amartha bersama delapan mitra meluncurkan Indonesian Coalition for Financial Health (ICFH).
- Koalisi fokus pada riset, inovasi, dan kolaborasi untuk meningkatkan kesehatan finansial masyarakat akar rumput.
- UMKM perempuan dan komunitas perdesaan menjadi sasaran utama penguatan ketahanan finansial.
Jakarta – Amartha Financial (Amartha) bersama sejumlah organisasi nasional dan internasional membentuk Indonesian Coalition for Financial Health (ICFH) sebagai upaya memperkuat ketahanan finansial masyarakat akar rumput, khususnya pelaku UMKM dan perempuan.
Koalisi tersebut diluncurkan dalam rangkaian The 2026 Asia Grassroots Forum dan melibatkan Women’s World Banking (WWB), Center of Financial Inclusion at Accion, Mastercard Center for Inclusive Growth, CERISE+SPTF, SME Finance Forum (SMEFF), KUMPUL, Beenext, dan Koalisi Ekonomi Membumi (KEM).
Peluncuran ICFH juga mendapat dukungan dari Ratu Máxima dari Belanda dalam kapasitasnya sebagai United Nations Secretary-General’s Special Advocate for Financial Health (UNSGSA). Dukungan tersebut dinilai menjadi sinyal penting bagi penguatan kolaborasi global dan domestik dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
Baca juga: Amartha Gelar The 2026 Asia Grassroots Forum
Sebelumnya, saat melakukan kunjungan resmi ke Indonesia pada November 2025, Ratu Máxima sempat mengunjungi UMKM binaan Amartha di Jawa Tengah untuk melihat secara langsung dampak layanan keuangan terhadap kesehatan finansial pelaku usaha.
Dalam pertemuan dengan manajemen Amartha, ia juga menyoroti pentingnya memperluas kolaborasi agar manfaat layanan keuangan dapat menjangkau lebih banyak kelompok masyarakat yang belum terlayani secara optimal.
Fokus pada Riset, Inovasi, dan Kolaborasi
Lebih lanjut, implementasi ICFH akan berfokus pada tiga agenda utama, yakni penguatan riset dan data kesehatan finansial, pengembangan inovasi keuangan inklusif, dan kolaborasi lintas pemangku kepentingan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif.
Koalisi ini juga akan mengembangkan sejumlah inisiatif untuk memperluas akses layanan keuangan bagi komunitas akar rumput, khususnya perempuan dan masyarakat perdesaan, sekaligus mengukur tingkat ketahanan finansial serta mengembangkan berbagai model inovasi yang dapat diterapkan secara lebih luas.
Kepala Sekretariat Indonesian Coalition for Financial Health, Aria Widyanto, mengatakan paradigma inklusi keuangan perlu bergeser dari sekadar akses menuju peningkatan kesejahteraan masyarakat.
“Fokus IFCH diharapkan juga berlaku pada sektor ketahanan dan kesejahteraan masyarakat sebagai hasil nyata yang ingin dicapai, terutama bagi kebutuhan komunitas akar rumput, termasuk UMKM perempuan di perdesaan dan kelompok yang belum terlayani lainnya,” ujar Aria dalam keterangan resmi, dikutip Senin, 8 Juni 2026.
Baca juga: Adopsi AI dan Ancaman Siber Makin Kompleks, Synology Sebut Faktor Ini jadi Tantangan Utama
Kolaborasi Dinilai Kunci Meningkatkan Ketahanan Finansial
Sementara Subhasini Chandran, Senior Vice President, Social Impact, APEMEA, Mastercard Center for Inclusive Growth, menambahkan bahwa Inklusi keuangan selama ini diukur dari seberapa banyak masyarakat memiliki akses terhadap layanan keuangan.
Padahal, seiring dengan terus bertumbuhnya kelas menengah global, para stakeholders perlu memastikan bahwa akses tersebut benar-benar digunakan dan mendorong ketahanan. Harapannya, hal ini dapat menciptakan lebih banyak peluang untuk bertumbuh.
“Koalisi dan para mitra ini akan memainkan peran penting dalam memperkuat agenda kesehatan finansial bagi komunitas akar rumput di Indonesia, dan hal ini sejalan dengan komitmen terbaru Mastercard untuk menghubungkan dan melindungi 500 juta orang serta usaha kecil dalam perjalanan mereka menuju kesehatan finansial,” katanya.
Faye Wongso, Founder & Chairperson KUMPUL menekankan pentingnya kolaborasi untuk membantu pelaku usaha akar rumput tumbuh lebih tangguh dan berkelanjutan. Menurutnya, bagi pelaku usaha akar rumput, kesehatan finansial bukan hanya tentang akses terhadap layanan keuangan.
Ia menyebut, para usaha kecil juga perlu memahami kemampuan untuk mengelola usaha, memahami peluang pasar, dan beradaptasi dengan teknologi. IFCH bisa menjadi wadah yang tepat terkait aspek ini.
“Melalui ICFH, KUMPUL melihat peluang untuk menghubungkan pelaku usaha dengan pendampingan, solusi, dan jejaring yang tepat agar mereka dapat berkembang secara lebih berkelanjutan,” ungkap Faye.
Amartha dan mitra berharap, kehadiran IFCHdapat memperkuat ekosistem kesehatan finansial yang kolaboratif dan berkelanjutan, sekaligus mendorong peran UMKM, terutama yang dipimpin perempuan, dalam pembangunan ekonomi yang lebih inklusif di Indonesia. (*) Mohammad Adrianto Sukarso


