Poin Penting
- 89% UMKM binaan Amartha mengalami kenaikan pendapatan.
- Rata-rata pertumbuhan pendapatan mencapai 63%.
- Kesenjangan pembiayaan UMKM masih mencapai Rp2.400 triliun.
Jakarta – PT Amartha Mikro Fintek (Amartha) terus bergerak mendorong serta membina pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), melalui skema pembiayaan inklusif guna memberikan dampak positif bagi ekonomi akar rumput.
Founder & CEO Amartha, Andi Taufan Garuda Putra, menyampaikan bahwa akses pembiayaan yang tepat sasaran mampu meningkatkan penghasilan pelaku UMKM.
“Hasil Sustainability Report Amartha tahun 2025 menunjukkan bahwa 89 persen UMKM Binaan Amartha mengalami peningkatan pendapatan dengan rata-rata pertumbuhan mencapai 63 persen setelah mendapatkan akses pembiayaan,” ujarnya dalam keterangan resmi, dikutip Selasa, 21 April 2026.
“Secara kumulatif, dampak tersebut telah dirasakan oleh sekitar 2,3 juta dari 3,9 juta UMKM binaan Amartha yang tersebar di lebih dari 50.000 desa,” imbuhnya.
Baca juga: Cara Amartha Perkuat Pemberdayaan Ekonomi Desa
Andi menegaskan bahwa pembiayaan inklusif tidak hanya membuka akses modal, tetap juga menjadi katalis bagi pelaku usaha untuk berkembang dan meningkatkan kapasitas bisnis.
Ke depan, lanjut Andi, Amartha akan terus memperkuat ekosistem usaha mikro serta meningkatkan kapasitas layanan dan pembiayaan di tingkat akar rumput.
“Ke depan, Amartha akan terus memperluas jangkauan layanan dan memastikan setiap penyaluran pembiayaan mampu meningkatkan daya saing usaha mikro di Indonesia,” tegas Andi.
Kesenjangan Pembiayaan Masih Lebar
Kesenjangan pendanaan masih menjadi tantangan besar bagi ekonomi nasional. Menurut data Statistik Sistem Keuangan Indonesia (SSKI) dari Bank Indonesia (BI), kebutuhan kredit UMKM di Indonesia diproyeksikan mencapai Rp4.300 triliun pada 2026.
Namun, kapasitas pendanaan yang terakomodasi baru sekitar Rp1.900 triliun, sehingga masih terdapat financial gap sebesar Rp2.400 triliun pada 2025 lalu.
Hal ini menunjukkan masih banyak pelaku usaha yang belum terhubung dengan sistem keuangan formal.
Baca juga: Amartha Prosper Jadi Alternatif Investasi, Tawarkan Imbal Hasil hingga 14 Persen
Peran Fintech Dorong Inklusi Keuangan
Director of Digital Economy Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Nailul Huda membeberkan betapa pentingnya penguatan akses pembiayaan untuk mendorong mobilitas ekonomi masyarakat.
“Ketika akses ini terbuka, dampaknya tidak hanya pada peningkatan pendapatan, tetapi juga pada kemampuan rumah tangga untuk lebih kuat dalam menghadapi tekanan ekonomi,” jelasnya.
Lebih lanjut, Huda menyebut data menunjukkan kehadiran teknologi finansial, termasuk pinjaman daring, membuat angka inklusi keuangan meningkat, baik secara umum maupun pada masyarakat 40 persen termiskin.
Negara yang sudah mengadopsi teknologi finansial memiliki tingkat inklusi keuangan 41,5 persen lebih tinggi ketimbang negara yang belum mengadopsi teknologi finansial. Ini menjadi alasan bahwa kehadiran pindar. membuat akses ke layanan keuangan menjadi terbuka lebar dan mendukung program peningkatan inklusi keuangan.
“Di sisi lain, ekosistem keuangan di desa pun terdorong karena adanya pinjaman daring, seperti munculnya agen-agen produk keuangan di desa,” imbuh Huda. (*) Mohammad Adrianto Sukarso







