Poin Penting
- Amartha menargetkan pertumbuhan pembiayaan hingga 20 persen pada 2026 dengan fokus menjaga kualitas portofolio
- Segmen usaha ultra mikro seperti warung dan pedagang pasar dinilai masih tahan terhadap tekanan ekonomi
- Amartha memperkuat literasi digital dan manajemen risiko untuk menjaga kualitas pembiayaan.
Jakarta – PT Amartha Mikro Fintek tetap optimistis terhadap prospek pembiayaan produktif pada 2026 dan menargetkan pertumbuhan penyaluran pembiayaan hingga 20 persen.
Di tengah ketidakpastian ekonomi dan potensi pelemahan daya beli masyarakat, perusahaan memilih strategi pertumbuhan yang lebih terukur dengan menempatkan kualitas portofolio sebagai prioritas utama.
Chief Compliance & Sustainability Officer, Aria Widyanto mengatakan, sektor usaha yang dilayani Amartha seperti pedagang pasar, warung, dan industri rumahan masih memiliki daya tahan yang kuat karena bergerak di sektor kebutuhan sehari-hari.
Baca juga: Dolar AS Menguat, Amartha Soroti Risiko Tekanan Usaha Ultra Mikro Desa
“Kami melihat prospek pembiayaan produktif masih bagus, karena usaha-usaha produktif itu masih terus bergulir. Segmen yang kami layani seperti pedagang pasar, industri rumahan, dan warung tetap berjalan karena menyangkut kebutuhan sehari-hari,” ujarnya saat ditemui usai acara Asia Grassroots Forum 2026 Amartha di Jakarta, Rabu (20/5).
Menurutnya, aktivitas ekonomi di pedesaan relatif lebih tahan terhadap gejolak makroekonomi. Namun, Amartha tetap mewaspadai dampak tidak langsung dari pelemahan daya beli akibat kenaikan harga barang impor dan perubahan perilaku konsumsi masyarakat.
“Kami tetap mewaspadai pelemahan daya beli. Pada akhirnya kondisi itu juga akan berpengaruh ke ekonomi masyarakat paling bawah. Karena itu, pertumbuhan kredit kami tidak terlalu agresif,” kata Aria.
Ia menegaskan, Amartha menargetkan pertumbuhan pembiayaan hingga 20 persen pada tahun ini. Meski demikian, pencapaian angka tersebut bukan tujuan utama perusahaan.
“Kita tidak muluk-muluk. Pertumbuhan sampai dengan 20 persen tahun ini saya rasa masih cukup bisa dijangkau dengan kualitas yang tetap terjaga,” ungkapnya.
Ia menambahkan, fokus utama perusahaan adalah menjaga kualitas pembiayaan, bukan mengejar ekspansi semata.
“Kalau bisa tumbuh 10, 20, atau 30 persen tentu alhamdulillah, tetapi itu bukan target utama. Fokus kami tetap pada kualitas,” tegas Aria.
Strategi Genjot Pembiayaan
Untuk mendukung strategi tersebut, Amartha memperkuat peran petugas lapangan di desa-desa agar tidak hanya menyalurkan pembiayaan, tetapi juga meningkatkan literasi digital nasabah.
Program literasi digital ini ditujukan agar para pelaku usaha ultra mikro, khususnya perempuan, dapat memperluas pasar melalui platform daring.
Baca juga: Pembiayaan Amartha Tembus Rp3 Triliun pada Kuartal I 2026
Selain itu, Amartha menekankan pentingnya tata kelola dan manajemen risiko yang ketat, mulai dari seleksi calon nasabah, verifikasi identitas, pencegahan fraud, hingga pendampingan usaha secara berkelanjutan.
“Risiko kredit adalah bagian dari bisnis pembiayaan. Selama kita berhati-hati, menjaga tata kelola, dan memastikan usaha nasabah benar-benar berjalan, risiko tersebut dapat dikelola dengan baik,” tuturnya. (*) Alfi Salima Puteri


